Monday, February 27, 2017

Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?

sumber: http://pgsd-tasikmalaya.upi.edu/
Berikut ini artikel saya mengenai mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuk dan dilemanya menyusun tugas akhir dengan sejuta halangan yang menguji dan mencoba.


artikel ini telah di publikasikasikan di laman resmi Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya.




Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?


Semester 7 adalah gerbang menuju titik kulminasi mahasiswa tingkat akhir. Satu per satu mulai membayangi tentang hiruk pikuknya kesibukan sebagai mahasiwa tingkat akhir. Tugas akhir? Stop! Berhenti bertanya. Jangan lanjutkan. Seolah seperti momok yang menakutkan, rasanya telinga menjadi lebih sensitif ketika disinggahi petanyaan “sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir ya?” atau “bagaimana rencana tugas akhirnya?”.



Apalagi bagi mahasiswa yang notabene-nya aktif menggunakan media sosial terutama internet. Tengok timeline BBM atau Instagram ada yang memposting tentang mahasiswa tingkat akhir dan segala kesibukannya pun dengan perjuangan menyelesaikan tugas akhir sarjana, bawaannya menjadi “baper” (baca: bawa perasaan). Alhasil menjadi triple ekstra sensisitif.



Responsif Dilema Mahasiswa

Sebagian mahasiswa yang menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir mulai mengencangkan ikatan dengan mempersiapkan berbagai hal. Seperti menyiapkan rencana penelitian tentang tugas akhir, mulai memikirkan apa yang akan menjadi masalah atau subjek penelitian, atau sekedar “kepo” dengan bertanya-tanya bagaimana prosedural kepada bagian akademik atau prodi maupun bertanya-tanya kepada kakak tingkat yang sudah lulus melalui akun sosial.


Sedangkan bagi sebagian lagi, ada yang masih bersikap acuh tak acuh dan memilih tutup telinga atau menghindar ketika ditanya tentang status sebagai mahasiswa akhir dan rencana tugas akhir. Pokoknya “gimana nanti saja”. Sebaiknya hal ini harus dihindari dan jangan ditiru. Mulailah berpikir “nanti bagaimana?” bukan sebaliknya seperti pilihan pada umumnya “gimana nanti saja”.



Mulailah Eksekusi

Sedikit demi sedikit lakukan eksekusi untuk setiap mimpi dan masa depan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir mau tidak mau, siap tidak siap tentu pasti akan menjalaninya. Jangan sampai anda hanya “melewatinya” saja, melainkan “menjalaninya” mengapa? Karena dalam menjalaninya anda tidak hanya menghadapinya dan melewatkan secara cuma, ada dan banyak pelajaran terbaik yang diperoleh.


Mulailah dari hal-hal kecil, seperti pola atau kebiasaan menjadi kebiasaan yang sehat, baik, bermanfaat dan menjanjikan. Biasakan untuk tidur tidak melewati larut malam dan terbangun di sepertiga malam atau sebelum subuh menjelang. Kesehatan tak kalah penting, jagalah pola hidup sehat. Karena tanpa badan yang sehat tidak akan tercipta akal dan pikiran yang digunakan secara jernih atau untuk sekedar berpikir.



Mahar Tugas Akhir Sarjana

Mulai rapihkan file-file di komputer dan buat folder baru dengan judul “Mahakarya tugas akhir” atau yang lebih spektakuler “Mahar tugas akhir sarjana”. Pertama azzam, niatkan yang benar kemudian buatlah target capaianmu. Ambil kertas atau klik stiky note di komputer dan mulailah menulis list progress capaianmu. Sedikit demi sedikit tidak akan ada yang sia-sia biarpun “pasti” akan menemui kegagalan demi kegagalan, tapi jangan takut!


Jangan takut karena anda bukan sedang memutuskan keputusan terbesar dalam hidupmu untuk menikah misalnya. Anda hanya sedang mulai masuk dan menjalani dilema dan romantika sebagai mahasiswa tingkat akhir. Yang tercepat menyelesaikan studi akhirnya bukan berarti kualitasnya buruk pun bagi yang terlambat menyelesaikan tugas akhirnya bukan berarti buruk pula. Hindari mindset seperti itu dan berhenti berpikir underestimate. Namun, tentu saja menyelesaikan tugas akhir dengan kualitas terbaik dalam waktu yang cepat itu lebih baik dan harus diperhitungkan.



Harga yang harus Anda Bayar

Karena kebaikan tidak baik untuk ditunda, segerakanlah dan untuk hasil yang optimal ada harga yang harus anda bayar untuk itu. Hasil yang optimal dan kualitas terbaik tentu tidak diperoleh dengan percuma,ingat selalu "ada perjuangan yang tidak sedikit, ada peluh dan mimpi yang bertaruh, ada hal yang lebih tidak menyenangkan dari kepahitan saat mencapainya. Anda harus siap membayar sebesar mimpi yang anda targetkan, yang anda inginkan".


Jangan pernah berpikir yang penting jadi “skripsi” dan kemudian selesai. Jangan pernah bangga karena anda hanya mendapat satu atau beberapa kali revisi saja. Jangan terlalu bahagia saat anda mendapatkan tanda tangan dosen dengan mudahnya. Karena anda baru saja kehilangan sebuah proses dari bagian mimpi masa depan anda.



Bersyukurlah jika anda mendapatkan banyak arahan dan bimbingan dari dosen pembimbing, jangan mengeluh karena anda baru saja memulai proses penting, tentu dalam hal ini dibutuhkan kepekaan dan bagaimana menyerap serta memfilter apa-apa saja yang telah diarahkan kepada anda, sekali lagi jangan sampai mengeluh! Ini proses penting yang terlalu mahal untuk dilewatkan.



Tidak salah jika seharusnya anda pun berpikir mengapa anda dengan mudah memperoleh tanda tangan atau persetujuan dari dosen, pertama “skripsimu terlalu biasa atau biasa saja” dan kedua “usahamu kurang dalam membangun chemistry”. Jangan sampai anda asal jadi membuat skripsi yang penting jadi dan lulus memperoleh gelar sarjana tapi realitanya “nol”. Melalui skripsi yang sedang anda capai, apa yang ingin anda sampaikan? Apa yang ingin anda tunjukkan? Apa yang berbeda dari skripsi anda? Ekspresikan, dan buat terus capaiannya.



Monday, July 06, 2015

Ramadhan Pertama di Negeri Gajah Putih

Sebuah perasaan yang memaksa. Suka tidak suka, mau atau tidak ramadhan kali ini harus terpisah dari keluarga dan orang-orang tercinta. Bukan hanya perasaan saja yang berbeda karena menjalani ramadhan tanpa kehadiran orang-orang yang telah biasa memberi warna dalam kehidupan sehari-hari, tapi makanan dan kebiasaan yang jauh berbeda dari biasanya. Jika di Indonesia setiap sore hari orang beramai-ramai pergi ngabuburit ataupun ketika hendak sahur dan akan berbuka orang beramai-ramai menabuh bedug, di Negeri Gajah Putih ini tidak ada hal-hal seperti itu.
Ada perasaan terpukul yang membekas diingatan, semua yang biasa dilakukan dan di dapatkan dengan mudah di Indonesia, disini tidak. Sekedar buka puasa bersama di mesjid pun tidak ada. Sedangkan di Indonesia, nyaris di setiap mesjid pasti ramai dengan orang-orang yang berbuka puasa bersama. Terkadang diri ini sering hanya melewatkannya begitu saja. Betapa terlambat menyadarinya, bahwa setiap momentum itu harus benar-benar di nikmati dan di syukuri. Agar tidak ada perasaan menyesal yang membekas, ketika telah melewatkannya dan ada dalam keadaan yang menginginkan momen yang telah berlalu.

Semua berawal dari tiga pekan lalu, saat aku baru tiba di Negeri Gajah Putih untuk melakukan Study. Kedatangan pada saat momen yang memberi kesan tersendiri bagiku, saat harus menemui ramadhan di Negeri Gajah Putih. Tepatnya ramadhan pertamaku di Negeri Gajah Putih. Berada dibawah langit yang sama, tapi berpijak di tempat yang berbeda. Makanan di Negeri Gajah Putih ini di dominasi oleh seafood dan daging, sedangkan harga sayur sangat tinggi. Sekali lagi, mau tidak mau harus bisa menerima dengan kenyataan.

Perbedaan waktu dan cuaca memberikan perasaan cemburu. Waktu yang sama dengan Indonesia, tapi jadwal shalat dan berbuka lebih lama. Jika di Indonesia pukul 17.44 sudah magrib dan berbuka, di Negeri Gajah Putih ini pada pukul 18.30 pun langit masih terang benderang. Waktu siang disini lebih lama daripada di Indonesia, sehingga magrib jatuh pada pukul 18.45. perasaan cemburu semakin merangsek, ketika banyak message dan status di media sosial yang mengucapkan “Selamat Berbuka Puasa” sedangkan di Negeri Gajah Putih masih menunggu waktu untuk berbuka.

Kesan dan beberapa kejadian tersebut memberikan sentuhan pesan halus, mengingatkan diri ini untuk selalu berlapang dada, bersyukur dan mencintai tanah sendiri. Perkara melewati momentum ramadhan di negeri orang, meninggalkan perasaan yang tak pernah pergi. Mengingatkan akan sejumput gumaman ‘biasanya kalau di Indonesia...’ selalu ada cerita yang hadir yang tak bisa untuk dilupakan.


Annisa Anita Dewi, 23 Juni/Thailand 2015

Tuesday, June 17, 2014

Stay Cool dalam Tombak Kesabaran

‘’Ketahuilah, bahwa sabar jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuhnya akan membusuk. Sama halnya jika kesabaran hilang maka seluruh permasalahan akan rusak’’
-Khalifah Ali bin Abi Thalib-
            Sabar merupakan hal yang sangat akrab didengar dan dijumpai dalam kehidupan. Apakah sebegitu pentingnya sabar itu?
            Jawabannya, kamu pasti tahu. Sabar itu adalah hal yang sangat kecil dan biasa. Bagaimana tidak guys? Ia adalah satu kata yang hanya terdiri dari lima huruf, S-A-B-A-R. Dan yang menjadikannya biasa hampir setiap orang pernah dan sering mengatakan,’’Yang sabar ya!’’.
            Namun, dibalik semua itu ternyata sabar sangat sulit kenyataannya. Sulit untuk diaplikasikan. Saat beribu masalah datang mendera dan menghadang, seringkali kepala berubah memanas dan hati yang terpingkal-pingkal karena harus menahan emosi. Tetapi disaat itu pula ‘sabar’ menjadi penolong dalam menjaga citra, wibawa, dan hati di depan khalayak.
            Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya saat permasalahan datang mendera lalu kita tidak bisa menahan emosi yang tersulut dan terlanjur meledak-ledak, bukan hanya benda-benda disekitar kita saja yang dibanting, harga diri dan citra kita bisa terbanting, guys!
            Jadi, apapun dan bagaimana pun yang terjadi sebisa mungkin kita harus tetap Stay Cool dalam tombak kesabaran. Tanpa kita sadari, dibalik sikap sabar itu kita memperoleh banyak hikmah dan pembelajaran hidup. Disaat orang yang kalap dirundung emosi dalam permasalahan yang dihadapinya, disaat itu pula ia kehilangan ketentraman hati dan ketenangan hidup. Ending-nya reputasi yang menjadi taruhan dan masalah semakin rumit.
            Berbeda halnya dengan orang yang mau menyikapi permasalahannya dengan ‘sabar’. Sebenarnya mereka memiliki banyak masalah, namun karena kesabaran yang mereka miliki, membuat mereka menjadi lebih kuat dan tegar dari sebelumnya. Disaat itu pula, citra, kharisma, wibawa, dan ketenangan berhasil mereka rengkuh dan dapatkan sekaligus.
            Guys! Pesan dari khalifah Ali bin Abi Thalib itu sudah cukup menegaskan bagaimana arti dan pentingnya sabar dalam kehidupan kita untuk menyikapi setiap permasalahan dengan bijaksana tanpa harus kehilangan ilmu dan ketenangan.
            Keren enggak sih??

            ‘’Oke-kan please! Guys,’’

Tuesday, February 11, 2014

AL-KHILM SAMPAI AL-GHOROOM

‘’Cukup! Lupakan semua tentang kita. Tidak ada lagi kenangan antara kau dan aku’’, tukas Amira padaku.
Kalimat itu masih jelas membayang dalam ingatanku dan tak pernah memudar. Januari lalu ia melesatkan kata-kata kejam itu, mengingatnya bathin ini terasa sakit. Air mata pun jatuh tak terelakan. Saat sebelum peristiwa itu terjadi, kita masih beraktivitas, makan, hangout bersama, melakukan ritual persahabatan. Dan pada 11 Januari siang, bumi persahabatan itu runtuh.
Tiga tahun yang susah untukku, menjaga sebuah persahabatan dengan Amira. Pahit, asam, garam kehidupan bersamanya. Saling menguatkan, saling meminjamkan bahu dan dada, menjadi tempat curhat setiap malam yang penuh kegelisahan, menjadikan kami seperti saudara meski tanpa satu darah mengikat. Memamerkan kebersamaan dan kemesraan sahabat kepada dunia, kalau kita adalah dua sahabat yang tak terpisahkan.
Sampai sesuatu pun terjadi. Entah apa yang merasuki pikiran Amira, ia berubah. Sikap acuh di tampakannya. Ia mulai berani membaca buku harianku padahal ia tahu itu privasi, dan setiap orang memerlukan privasi untuk kredibilitas dan kenyamanannya. Jauh dahulu sebelum bumi persahabatan runtuh, kita berjanji satu sama lain untuk saling menguatkan, dan menceritakan tentang masalah dan kegelisahan, tetapi kita tidak boleh membuka apalagi membaca buku harian masing-masing.
Amira selalu menyimpan rapat buku hariannya,untuk menyentuhnya saja ia tunjukan ketidakrelaannya, dan seonggok rasa takut. Tapi kali ini, ia membuka bahkan membaca buku harianku. Saat kalimat demi kalimat yang kutuangkan terbaca, rasanya seperti kehilangan harga diri, seperti di telanjangi, dan semua prasangka, ribuan macam pikiran menggelayut dalam bathinku. Lama aku termenung, tapi aku tak ingin persahabatanku dengan Amira koyak begitu saja. Aku mencoba mempertahankan, mengibarkan kidung kesabaran, memberinya kepercayaan kembali juga kesempatan. Dan berharap ini menjadikannya pelajaran berharga.
Ini bukan yang diinginkan semua orang, bahkan setiap sahabat di belahan bumi ini. Saat persahabatan yang di bangun bertahun-tahun dengan susah payah-kebersamaan dan kasih sayang, mengukir kenangan di setiap jalannya, tercerai berai begitu saja meninggalkan luka, sesal, dan tangis. Amira mengkhianatinya, bahkan dalam setiap hal ia tak pernah ingin kalah dan selalu menganggap sebuah persaingan.
‘’Lepaskan tanganku, Zaira! Aku bukan lagi sahabatmu! Sampai disini saja persahabatan kita’’, ucap Amira dengan nada tinggi dan emosi membara.
‘’Kamu benci sama aku? Fine! Apa alasannya kau mengkhianati dan menghancurkan persahabatan kita? Kasih tahu aku! Tapi kamu harus tahu, kamu boleh membenciku tapi aku tidak akan pernah membencimu dan akan selalu memberikan yang terbaik dan cinta untukmu sahabatku. Pintu hatiku selalu terbuka jika kamu ingin kembali’’, balasku sambil melepaskan tangan Amira.
Sepenggal percakapan pada 11 Januari lalu yang sempat ku tuliskan dalam harianku. Hingga saat ini, bulir air mata selalu luruh dengan sendirinya saat mengingat memori kenangan yang pernah terukir bersama Amira dalam labirin waktu. Jika memang harus ada yang membenci dan terluka, itu adalah aku. Tapi aku tak menghiraukan lukaku untuk mencerai berai persahabatan antara aku dengannya.
Seandainya kau katakan:’’Injakkanlah kakimu ke bara api’’
atau ‘’Jangan berhubungan lagi denganku’’
sedang kutahu bahwa itu keinginanmu
tentulah aku lebih memilih menginjakan kaki ke bara api
untuk memuaskanmu atau memang kamu sedang keblinger
Jika aku menderita,
Karena mendapat perlakuan yang buruk darimu,
Maka sebaliknya aku merasa senang, karena mendapat perhatian darimu
 Sepenggal syair karya Abdullah bin Ad-Daminah yang menggambarkan setitik embun perasaanku. Dan seperti dalam syair itu, aku akan melakukannya untuk mempertahankan persahabatanku dengan Amira. Namun entah bagaimana ia sekarang, aku tak bisa mendapatinya. Namanya, jiwanya, dan keberadaannya seperti tenggelam tertelan bumi.
‘’Duhai Tuhanku yang Esa, aku merindukannya. Berikanlah jalan yang terbaik. Dan bila memang ia adalah sahabat yang baik untukku, maka kembalikanlah, satukanlah kami dalam ukhuwahMu’’, #MyPray.  
Dan ku labuhkan kerinduan, doa, dan cintaku untuk sahabatku dalam dermaga sepertiga malam dimana aku memuji Tuhanku. Januari menjadi kenangan terakhir antara aku dengannya. My besties, sampai jumpa di gerbang kesuksesan meski jalan yang kita pilih berbeda.




Tasikmalaya, Serambi Hijau
Januari  2014
2:42
Annisa Anita Dewi

sumber Foto: http://ida-diah-c.blog.ugm.ac.id/category/just-words/

Wednesday, February 05, 2014

SERAMBI HIJAU

Menjadi saksi bisu dalam diam
Ia tak hidup, tapi keindahannya membuatku hidup
Menjadi saksi lahirnya selaksa karya
Ia bisikkan senandung perjuangan

Ia adalah Serambi Hijau,
Yang membisikkan semangat dalam dada
Mengubah putihnya secarik kertas
Menjadi karya bertabur makna biaskan keindahan

Ia lemparkan indah memesona
Merengkuhku dalam labirin waktu

Dan ia bisikkan, ayat-ayat kehidupan..


Tasikmalaya, 29 November 2013
17:25
Annisa Anita D

Tuesday, December 31, 2013

Teacher in Mind - The Big Secret of Life

POWER 1
TENTANG PIKIRAN

Sekali-kali menolehlah ke belakang, agar kamu tidak terjatuh di tempat dan  kesalahan yang sama. Menoleh bukan untuk meratapi, tetapi mengambil pelajaran hidup terbesar’’

-Annisa Anita D


POWER 2
KENALI DIRIMU
Merubah paradigma berpikir dari satu pandangan menjadi berbagai pandangan, dari berpikir negatif menjadi pemikiran yang positif.
-Annisa Anita D



POWER 3
PATAHKAN FAKTOR PENGHAMBAT
Musuh terbesar dalam hidupmu adalah sisi lain dari dirimu.
-Annisa Anita D


POWER 4
EKSPLORASI PIKIRANMU
Jelajahi pikiranmu tentang mimpi besarmu. Temukan, tentukan, dan susun strategi untuk sebuah mimpi besarmu. Menentukan karena kamu tidak bisa hidup dalam ribuan pilihan, dan kamu tidak akan bisa menggapainya tanpa strategi yang cerdas.
-Annisa Anita D


POWER 5
LUKIS MIMPI BESARMU
Tinggalkan jejakmu dan sejarah akan menulis dengan tinta emasnya.
-Annisa Anita D



Thursday, December 19, 2013

SENARAI CINTA, MAHAR UNTUK ANNISA

Halimun di pagi ini masih terasa kentara. Musim panas telah datang membawa alur cerita baru. Trem telah sampai di pemberhentian yang dituju oleh Althaf. Berbeda dari biasanya selepas shalat subuh ia menuju Semenanjung Mornington menggunakan trem, salah satu transportasi umum di Melbourne.
Althaf adalah mahasiswa internasional Aussi yang baru di wisuda pasca sarjana beberapa pekan lalu. Rencananya pekan depan ia pulang ke tanah air. Di semenanjung Mornington, dua bola matanya tak henti melepas pandangan. Pedesaan tepi laut yang indah dan keindahan pantai yang memanjakan matanya. Jika biasanya ia mengunjungi galeri dan taman nasional di Semenanjung Mornington, kali ini ia lebih memilih mereguk indahnya pesona pedesaan tepi laut dan pantai. Tak ada yang menarik hatinya, hanya saja bathinnya yang mendesah mengkhawatirkan sesuatu. Kini di belakang namanya telah tersandang gelar pendidikan yang dulu ia mimpikan, Akmal Althaf, Ph.d.
Tetapi ada hal yang membuatnya risau, sepulangnya ke Indonesia pasti bunda dan ayah menanyakan kapan ia akan melepas kesendiriannya. Sejak setahun lalu orang tuanya mendesak agar ia segera meminang wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya, di usianya yang saat ini menginjak 25 tahun cukup matang baginya untuk menikah. Sekarang Althaf sudah merasa mantap dan siap membangun mahligai rumah tangga yang di mimpikan semua orang. Namun siapa yang akan dipinangnya?, itulah yang membuatnya risau. Selama kuliah di Melbourne, tak ada satu pun wanita yang ia dekati. Begitu pula saat di Indonesia ia tak pernah merajut cinta bersama seorang terkasih, karena keputusannya dulu saat masih mengenyam perkuliahan  S1 Althaf tak ingin menjalin hubungan yang orang sebut pacaran. Bila pun harus ia labuhkan kecintaannya, ia memilih taaruf.


Kausa Senarai Cinta di Pelupuk Surya
Tibalah kepulangannya ke Indonesia, suasana rumah begitu ramai. Tak hanya sanak saudara yang nampak, namun beberapa temannya juga hadir. Bunda dan ayah sengaja menggelar acara syukuran sederhana, dan Althaf tidak mengetahui sebelumnya kalau bunda dan ayahnya akan menggelar acara syukuran atas kepulangannya. Satu persatu semua menyalaminya dan Althaf membalas tangan-tangan tulus yang menyalaminya, terkecuali yang bukan mahramnya. Dalam acara itu hadir juga teman-teman Althaf sewaktu pengajian rutin malam.
Di penghujung acara saat semua membubarkan diri dan berpamitan, ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Althaf mencoba mengingat-ingat, sepertinya ia tak asing dengan sosoknya, entah siapa tapi ia merasa sangat dekat. Esoknya sang ayah meminta Althaf mengantarkan beberapa paket buku ke sebuah yayasan pendidikan karena ayahnya adalah salah satu donatur tetap di yayasan tersebut.
‘’Assalamualaikum. Maaf, ada yang bisa saya bantu, mas?’’, ucap seorang wanita seraya menyapa. Ia adalah salah satu staf pengajar di yayasan tersebut.
Althaf yang mendengarnya segera menjawab salam dan mengangkat pandangannya dari yang awalnya tertunduk menatap layar telepon genggamnya yang bergetar karena sebuah pesan masuk, menjadi tengadah.
‘’Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh..’’, sahut Althaf sambil mengangkat pandangannya.
Bukankah ia wanita yang kemarin membuatku berpikir keras untuk mengingatnya, dan sekarang..oh Allah!, bathin Althaf. Lalu ia menyampaikan maksud kedatangannya dan terciptalah sekelumit obrolan diantara keduanya. Semakin lama, entah kenapa bathin Althaf terasa kian bergemuruh. Sesekali ia mengalihkan pandangannya untuk menjaga pandangan dan syahwat yang bisa datang kapan saja. Usai pertemuan itu Althaf mencari tahu tentang wanita itu, ia enggan menanyakan langsung siapa namanya hanya karena ia lupa dan terlebih Althaf takut menyinggung perasaannya.
‘’Namanya Annisa, kenapa Thaf?. Kamu menyimpan pendar pada gadis itu ya, nak?’’, ujar Ayahnya sambil mendekat duduk di samping Althaf.
Beberapa saat ayahnya menatap lekat Althaf, memperhatikan sikap dan tingkah putera pertamanya. Althaf tak menjawab ayahnya, tatapannya terpaku dan pikirannya melanglang buana. Entah kemana dan apa yang di pikirkannya.
‘’Ya sudah, kalau sudah yakin segera kau pinang dia ya!’’, ucap Ayahnya menggoda sembari tersenyum diikuti tangannya yang menepuk bahu Althaf.
‘’Naam, insyaAllah yah. Althaf segera kumpulkan maharnya jika memang ia bidadari yang Allah takdirkan untukku. Doakan Althaf ya, yah!’’, seru Althaf  pada ayahnya yang telah kembali dari lamunannya.
Saat mengatakannya, tak segores pun raut canda yang menyelimutinya. Althaf menyampaikan pada ayahnya seolah lebih dari kata serius. Ayahnya yang mendengar jawaban puteranya segera meraih lengan anaknya yang pamit dan beranjak sambil mendekap mushafnya.
‘’Sungguh apa yang baru saja engkau ucapkan barusan pada ayah, nak?’’, tanya ayahnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.
Althaf tak menguraikan jawaban  seperti yang diharapkan ayahnya, ia hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Dalam Mihrab Cinta Sang Maha Cinta
Tepat selepas subuh Althaf di dampingi Ibunya dan Almira adik perempuannya, menuju kediaman Annisa dengan mengendarai Toyyota Fortunner milik ayahnya. Althaf menyengaja pergi selepas subuh, karena jika agak siang khawatir Annisa telah pergi mengajar.
Sesampainya di halaman rumah Annisa, Althaf terdiam sebentar. Ia mengatur nafasnya hingga tiga kali. Melihat sikap kakaknya yang mulai salah tingkah Almira langsung menarik lengan kakaknya sampai ke bibir pintu dan mengetuk pintu itu dengan sopan. Dua menit berlalu akhirnya pintu terbuka, entah kebetulan entah memang takdirnya. Yang membukakan pintu adalah Annisa. Setelah di persilahkan masuk pembicaraan pun di mulai.
‘’Nak Annisa, Althaf ini ingin menyampaikan suatu hal kepada nak Annisa. Ayo Nak! silahkan sampaikan..’’, ucap Ibunya sambil meletakkan telapak tangannya di paha Althaf dan menariknya kembali.
Setelah di persilahkan ibunya Althaf mencoba untuk tetap tenang, stay cool dalam istigfhar yang membentenginya. Dan ia pun menyampaikan maksud kedatangannya setelah lebih dulu mengucapkan basmallah dalam hatinya.
‘’Begini ukhti, kedatangan saya kemari adalah untuk meminangmu menjadi bidadari dalam hidupku. Afwan, jika mendadak. Tapi saya tidak ingin hati dan jiwa ini memandangmu dalam ketidak halalan. Bagaimana?’’, ujar Althaf menyampaikan dengan sedikit gugup.
Annisa yang mendengarnya bak tersambar halilintar. Lidahnya kelu harus menjawab apa, lalu ia pamit sebentar dan kembali lagi bersama ibunya. Dibelakang tadi Annisa telah menceritakan kepada ibunya perihal Althaf dan pinangannya.
‘’Antum serius dengan ucapannya?. Apa bukti kesungguhan antum?, yakinkan ana untuk menerima pinangannya..’’, ucap Annisa sambil menggenggam erat tangan ibunya yang tengah duduk di sampingnya.
‘’Ana sudah mempersiapkan maharnya sejak saat bayang-bayang ukhti kerap berkelebat dalam sujudku, rukuku, dan saat rengkuhmu tiba-tiba hadir dalam bayangku membuat kalbu ini tak menentu dan tak terkendali selepas isya selama ribuan detik. Jika memang ukhti bersedia, minggu depan nanti ana siap untuk mengkhitbah’’, jawab Althaf tanpa ingin berlama-lama memandang wajah yang belum halal untuknya.
Mendengarnya, Annisa menitikkan air mata dan memeluk erat ibunya lalu menyatakan dirinya bersedia untuk Althaf pinang. Dan pula Annisa telah mengenal Althaf sewaktu masa pengajian rutin malam. Almira dan Ibunya yang menyaksikan suasana yang haru membiru ikut menangis bahagia.
Tibalah masa yang dinanti, jumat malam selepas isya Althaf menuju kediaman Annisa bersama orang tua, keluarga, dan penghulu. Setibanya disana Annisa dan keluarganya pun telah siap menyambut kedatangan Althaf dan rombongannya. Di mesjid Al-Muhajirin yang jaraknya tak jauh dari rumah Annisa, disanalah sejarah terukir dan para malaikat mendoakan. Ketika kalimat akad yang di ucapkan dalam satu tarikan nafas itu bukan lagi mimpi dan harapan, Althaf mengucapkan kalimat akad itu dalam bahasa Arab dengan lancar tanpa mengulang.
Setelah kata sah bergeming di seluruh penjuru, semua yang menyaksikan tersenyum bahagia, ada yang berpelukan, dan ada pula yang meneteskan air mata bahagia. Resepsi akan di gelar setelahnya, dan dua hari setelah akad Althaf memboyong Annisa ke Mecca kota tersuci bagi umat islam di seluruh dunia, dengan tiket pemberangkatan yang telah disiapkan minggu yang lalu. Di Mecca, di tempat itulah keduanya melaksanakan sunnah Rasullallah sebagai sepasang suami istri. Rambut yang tergerai indah, wajah yang manis dan senyum yang memesona dengan halal Althaf melepas pandangan dan menyentuhnya.
‘’Dik Annisa, Allah telah memilihmu untuk menjadi bidadariku dan ibu dari anak-anakku. Kidung cintaku padaNya berlabuh di dermaga hatimu, mari kita tunaikan dua rakaat dulu kepada sang Maha Cinta..’’, ucap Althaf.
‘’Mmm...’’, desau Annisa yang masih bingung memanggil suaminya.
‘’Panggil saja ‘Mas’, dik. Coba panggil..’’, jawab Althaf dengan pengertian.
‘’Iya, Mas Althaf.. mari kita tunaikan dua rakaat dengan berjamaah, imamku’’, ucap Annisa mencoba mengatasi kegugupan dengan cintaNya.


Tasikmalaya, 07 Desember 2013
Buah pena Annisa Anita Dewi (Ami Kautsar)

Ordinary

7 Cara untuk Ibu Hindari Stunting: Penderita Stunting Indonesia 35,6% Melebihi Batas Maksimal

Hati-hati pada stunting terutama pasangan muda! Beberapa hal yang sederhana namun sangat penting dan berpengaruh acapkali diabaik...