Wednesday, May 23, 2018

Pengertian Sajak dalam Bahasa Sunda dan Contoh Sajak Sunda


Pengertian Sajak dalam Bahasa Sunda

Sajak nyaéta salah sahiji karya sastra nu mangrupa ébréhan tina sikap, jiwa jeung ékspresi pangarang. Wangun sajak kaasup kana wangun ugeran, tapi disusun sakarep pengarang (dikutip dari brainly.co.id).

Contoh Sajak Sunda

Sajak Pikeun Bapak

Saban isuk saban poe
Teu weleh lengkah anjeun terus maju
Sanajan tiis angin ngahiliwir, panas panonpoe nu ngagebra
Cur cai kesang balas kacape teu dirasa

Saban poe anjeun miang
Pinuh rasa ikhlas jeung kabungah
Ngorbankeun jiwa jeung raga
Pikeun kabagjaan kulawarga

Bapak,
Hampura kuring can bisa jadi kabungah
Bapak,
Sarupa cahya dina poek na hirup kuring

Teu weleh anjeun neuteup dina hate kuring
Kesang bapak, du'a jeung pamelang indung 
Baris nembragkeun cimata
Iwal kanyaah jeung du'a

Leuwih ti cukup pikeun kuring nyangharepan hirup


Tasikmalaya, Mei 2018
Annisa Anita D



Baca juga Tips Sukses Menghadapi Ujian

Baca juga Sedikit Tips Sidang Skripsi

Baca juga 7 Macam-macam Sikap yang Harus Diketahui



sumber gambar
https://www.artikelbelajar.com/materi-basa-sunda-sajak/




Tugas, Pokok dan Fungsi Wartawan dan Perbedaan Wartawan, Pers, Reporter


Reporter merupakan salah satu jenis atau jabatan dari kewartawanan, dilansir dari id.Wikipedia.org Reporter bertugas melakukan peliputan berita (news gathering) di lapangan dan melaporkannya ke pada publik, baik dalam bentuk tulisan untuk media cetak atau dalam situs berita di internet, atau pun secara lisan, bila laporannya disampaikan melalui media elektronik radio atau televisi. Hasil kerja reporter, baik merupakan naskah tulisan ataupun lisan, umumnya harus melalui penyuntingan redaktur atau produser berita sebelum bisa disiarkan kepada publik.

Baca juga Menulis Berita dan Teknik Reportase

Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik dengan baik dan benar, sedangkan Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Jadi tugas pokok seorang jurnalis hanyalah menulis menulis dan menulis akan tetapi didalam melaksanakan tugas sebagai jurnalis selalu menghormati norma-norma dan kode etik jurnalis dan apabila didalam menjalankan tugas profesinya, bagi siapa saja yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah) ¹.
Berikut ini tugas, pokok dan fungsi wartawan Dalam buku Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang dikutip oleh Budlimbad, sebagai berikut :
1.    Authenticator, yakni konsumen memerlukan wartawan yang bisa memeriksa keautentikan suatu informasi.
2.    Sense maker yakni menerangkan apakah informasi itu masuk akal atau tidak.
3.    Investigator yakni wartawan harus terus mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan.
4.    Witness bearer yakni kejadian-kejadian tertentu harus diteliti dan dipantau kembali dan dapat bekerja sama dengan reporter warga.
5.    Empowerer yakni saling melakukan pemberdayaan antara wartawan dan warga untuk menghasilkan dialog yang terus-menerus pada keduanya.
6.    Smart aggregator yakni wartawan cerdas harus berbagi sumber berita yang bisa diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, bukan hanya karya wartawan itu sendiri.
7.    Forum organizer yakni organisasi berita, baik lama dan baru, dapat berfungsi sebagai alun-alun di mana warga bisa memantau suara dari semua pihak, tak hanya kelompok mereka sendiri.
8.    Role model, yakni tak hanya bagaimana karya dan bagaimana cara wartawan menghasilkan karya tersebut, namun juga tingkah laku wartawan masuk dalam ranah publik untuk dijadikan contoh.





Sumber Gambar
http://www.cakrawalamedia.co.id/yani-tidak-ada-lagi-wartawan-yang-dianaktirikan/

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Reporter
¹http://independent-new.blogspot.co.id/2014/03/wartawan-harus-memahami-tugas-pokok_29.html

Tuesday, May 08, 2018

9 Pilar Pendidikan Karakter

Sudah tidak asing lagi semua khalayak mengetahuinya, pendidikan karakter merupakan upaya yang dilakukan untuk membantu perkembangan anak. Pendidikan Karakter kerap digembar-gemborkan hampir ke seluruh lapisan untuk mengaplikasikan nilai-nilai kehidupan sebagaimana mestinya. 



Senada dengan itu Mulyasa (2014) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal baik dalam kehidupan sehingga anak memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada 9 Pilar karakter yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk mengaplikasikan pendidikan karakter, menurut Mulyasa sebagai berikut:

1. Cinta Allah dan kebenaran

2. Tanggungjawab, disiplin dan mandiri

3. Amanah

4. Hormat dan santun

5. Kasih sayang, peduli dan kerjasama

6. Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah

7. Adil dan berjiwa kepemimpinan

8. Baik dan rendah hati

9. Toleran dan cinta damai





Referensi
Mulyasa. (2014). Manajemen pendidikan karakter, cetakan ke-4. Jakarta: Bumi Aksara

Referensi Gambar
https://www.kajianpustaka.com/2017/12/nilai-tujuan-fungsi-dan-prinsip.html


Monday, May 07, 2018

Kiat Ayah dan Ibu Generasi Milenial Mendampingi Generasi Alfa


Pendidikan merupakan terobosan untuk kehidupan lebih baik yang menjadi sendi perubahan. Di era kekinian pendidikan bukan merupakan hal yang tabu dan siapapun berhak untuk mengenyam pendidikan. Hal yang seringkali terjadi dan harus dipahami, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan anak-anak secara penuh kepada guru, lembaga atau pihak sekolah. Tentu saja, hal itu bukanlah pemahaman yang benar. Proses mendidik tidak terlepas dari Ayah dan Ibu selaku orang tua bukan hanya guru dan pihak sekolah saja, kita pahami orang tua memiliki andil yang sangat penting dan jauh lebih besar dalam proses pendewasaan dan pendidikan anak. Apalagi di Era Alfa tantangan mendidik pun semakin besar, banyak hal yang dapat mempengaruhi karakter dan kepribadian anak-anak.



Kecanggihan teknologi tidak serta merta berdampak pada sisi positif saja atau cenderung negatif, melainkan keduanya bisa terjadi. Maraknya kenakalan remaja, penyalahgunaan teknologi dan degradasi moral pada anak, semata-mata bukan karena dipengaruhi oleh lingkungan ataupun pergaulan bebas. Semua hal tersebut dapat disiasati dengan baik begitu halnya dengan kecanggihan teknologi yang dapat dioptimalkan dengan positif, hal itu dimulai dari keluarga sebagai denyut kehidupan pertama. Andil Ayah dan Ibu sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak sangat penting dan berpengaruh besar, seperti dalam proses pembentukan karakter dan kepribadian anak.

Andil Ayah dan Ibu dalam Mendidik Generasi Alfa
Menyikapi beragam lingkungan dan pergaulan yang bebas dapat disiasati dengan proses mendidik dalam keluarga yang sehat, hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman dan pembiasan moral serta karakter yang sesuai dengan Pancasila dan agama yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu halnya dalam menghadapi kemajuan teknologi yang semakin canggih selain sebagai alat penyebaran informasi yang sangat cepat dan memberi kemudahan juga tidak dipungkiri memiliki sisi negatif yang harus disiasati, Ayah dan Ibu sebagai orang tua selayaknya berperan penting dalam melakukan pendampingan terhadap anak-anak dengan cara sebagai berikut :

1.        Tidak memberikan gadget secara sembarangan
Dalam artian anak di bawah umur tidak seharusnya diberikan gadget apalagi jika digunakan untuk membuat si kecil asyik sendiri, seperti menenangkan si kecil supaya tidak menangis dengan memberikan permainan melalui gadget. Selain berbahaya dari segi kesehatan juga berpengaruh terhadap tumbuh-kembang si kecil yang akan bersikap apatis terhadap lingkungan dan melewatkan banyak hal di dunia nyata terutama di usianya yang tidak akan terulang kembali.
2.        Melakukan Pendampingan
Penggunaan gadget ataupun alat teknologi lainnya berikut dengan internet, sebagai Ayah dan Ibu selayaknya melakukan pendampingan, dimulai dengan memberikan pemahaman serta wawasan dalam pemanfaatan teknologi dalam kehidupan serta menjelaskan hal-hal yang harus dihindari agar tidak terkena dampak negatif.
3.        Menggunakan Gadget Secara Efektif dan Efisien
Penggunaan gadget pun selayaknya diatur sesuai kebutuhan, Ayah dan Ibu sebagai orang tua dapat melakukan pengaturan jadwal penggunaan gadget sehingga tidak mengganggu komunikasi dan kultur dalam keluarga. Tidak dipungkiri generasi Alfa saat ini seringkali sibuk sendiri dengan gadget, sehingga mengabaikan aktivitas yang rutin dilakukan dalam keluarga. Seperti bercengkrama, berkumpul dengan anggota keluarga dan melakukan tugas sebagai bagian dari anggota rumah. Jika dibiarkan dan tidak dinasehati akan berakibat pada kebiasaan yang buruk, jika sudah menjadi kebiasaan maka akan sulit untuk merubah atau memperbaikinya.

Salah Satu Cara Jitu Mendidik dengan Memperkenalkan Internet Kepada Anak
Kemajuan teknologi memberikan tantangan baru dalam mendidik anak terutama bagi Ayah dan Ibu selaku orang tua agar tetap dapat mendampingi anak-anak sehingga dapat mengoptimalkan teknologi dengan positif dan menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya, sehingga sebagai orang tua selayaknya mengambil peran dengan tepat. Dilansir dari media sosial instagram Kemdikbud menjelaskan mengenai Mengenalkan Internet Berdasarkan Usia Anak terhadap peran orang tua, yaitu:
1.        Usia 2 s/d 6 tahun
Pada usia ini anak tidak diperkenankan menggunakan internet sendiri, peran orang tua yakni menumbuhkan karakter anak sejak dini sebagai pertahanan terhadap pengaruh lingkungan, mendampingi anak agar mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua, dan memilihkan situs yang mendidik terkait dengan kesiapan sekolah misalnya: pengenalan huruf, angka dan pengetahuan dasar.
2.        Usia 7 s/d 12 tahun
Usia ini anak mulai meminta kebebasan lebih banyak kepada orang tua untuk mengeksplorasi sendiri dalam ber-internet, peran orang tua yakni menempatkan komputer di ruang terbuka  dan memasang perangkat pengamanan penggunaan internet agar anak tetap leluasa, membuat aturan bersama mengenai waktu penggunaan internet.
3.        Usia 13 s/d 15 tahun
Pada usia ini anak membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kebebasan, peran orang tua yakni mengenalkan fungsi internet untuk membantu tugas sekolah maupun yang berkaitan dengan hobi, menempatkan komputer di ruang terbuka  dan memasang perangkat pengamanan penggunaan internet agar anak tetap leluasa, membuat aturan bersama mengenai waktu penggunaan internet.
4.        Usia 16 s/d 18 tahun
Usia ini anak mulai aktif menjalani kehidupan sosialnya, mereka mencoba mencari informasi untuk memenuhi rasa ketertarikan dan penasarannya, peran orang tua yakni menempatkan komputer di ruang terbuka  dan memasang perangkat pengamanan penggunaan internet agar anak tetap leluasa, membuat aturan bersama mengenai waktu penggunaan internet secara aman dan bijak, dan memberikan pemahaman agar anak tetap waspada terhadap keberadaan pihak yang dapat merugikan mereka dalam penggunaan media sosial.

       Menghadapi era teknologi ini peran orang tua semakin penting dalam pendidikan, terlebih terhadap proses dan pembentukan karakter dan kepribadian anak-anak. Ayah dan Ibu sebagai lingkungan pertama bagi anak sekaligus pendidikan pertama dan utama bagi anak merupakan hal yang mendasar yang menjadi sendi penguat dan perubahan dalam kehidupan. Peran penting Ayah dan Ibu sebagai orang tua dalam proses mendidik sekaligus sebagai lingkungan edukasi sangat didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena upaya tersebut merupakan partisipasi yang nyata dan kontribusi yang sangat besar dari Ayah dan Ibu dalam membantu tercapainya Visi Pendidikan.

Hari Pendidikan? Ayah dan Ibu Generasi Alfa Lakukan ini
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei meski bukan tanggal merah, Hardiknas marak diperingati secara nasional di seluruh penjuru Indonesia. Hal yang paling lumrah adalah memperingati dengan melaksanakan upacara. Walaupun secara nasional Hari Pendidikan diperingati setiap tanggal 2 Mei, seyogianya setiap hari merupakan hari pendidikan yang setiap harinya kita melihat anak-anak kita berhamburan mengenakan pakaian seragam sekolah sambil menggendong tas dan mencium tangan berpamitan untuk menimba ilmu.
Memperingati Hari Pendidikan setiap harinya Ayah dan Ibu sebagai orang tua generasi Alfa memiliki kesempatan dan banyak cara untuk mengedukasi anak-anak, terlebih sebagai kiat-kiat menghadapi dan menyikapi tantangan zaman mengingat waktu yang dihabiskan oleh anak di keluarga (rumah) lebih banyak daripada di sekolah. Inilah cara yang dapat dilakukan Ayah dan Ibu generasi Alfa dalam mengedukasi anak-anak:
1.        Membudayakan membaca buku sebelum tidur selain buku sekolah;
2.        Melakukan tanya-jawab dengan anak tentang aktivitas di sekolah;
3.        Mendukung prestasi anak dengan mengikuti ekstrakurikuler sesuai hobi;
4.        Mendampingi anak dalam mengerjakan tugas sekaligus memberikan wawasan;
5.        Ayah dan Ibu melek informasi pendidikan sehingga dapat menunjang perkembangan anak;
6.        Ayah dan Ibu tidak banyak memberikan larangan, tetapi memberikan arahan dan pengetahuan kepada anak;
7.        Ayah dan Ibu membuat quality time membaca buku dalam keluarga;
8.        Meluangkan waktu khusus bersama anak-anak untuk berbincang mengenai cita-cita, sehingga tercipta suasana yang nyaman dan Ayah serta Ibu dapat memberikan arahan, pendampingan bahkan memantau anak-anak dalam meraih masa depannya;
9.        Ayah dan Ibu menjadi inspirasi untuk anak-anak dan sebagai contoh yang nyata untuk digugu dan ditiru.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan oleh Ayah dan Ibu generasi Alfa, hal-hal tersebut berawal dari hal-hal kecil yang seringkali terabaikan namun sangat berpengaruh. Kiat-kiat dan cara jitu tersebut dapat Ayah dan Ibu biasakan kepada buah hati, sehingga Ayah dan Ibu generasi Alfa lebih siap mendampingi perkembangan anak-anak yang disertai dengan kemajuan zaman dan teknologi. #SahabatKeluarga (Annisa Anita Dewi)


Referensi
https://www.instagram.com/sahabatkeluargakemdikbud/
Referensi Foto





Tuesday, March 06, 2018

5 Poin Pertanyaan Umum yang ditanyakan Penguji Saat Sidang



Ketika Sidang Ujian Akhir atau Sidang Skripsi/Tesis/Disertasi, penguji umumnya akan mengajukan 5 poin pertanyaan berikut :

1. Pertanyaan mengenai pendahuluan atau Bab 1
misal : Apa latar belakang kamu melakukan penelitian ini? pentingkah? apa manfaatnya?

2. Pertanyaan mengenai kajian pustaka atau rujukan
misal : Referensi apa saja yang kamu gunakan? Apakah kamu menggunakan jurnal yang sudah terindeks untuk bahan referensi kamu?

3. Pertanyaan mengenai metode penelitian
misal : Metode penelitian apa yang kamu gunakan? dst sampai lebih mendetail.

4. Pertanyaan seputar daftar pustaka dan sitasi

5. Pertanyaan tentang "originalitas" baik ide maupun penyusunan skripsi yang dibuat

Selain pertanyaan di atas, pertanyaan lainnya yang sering diajukan adalah kerapihan tulisan "no typo" dan pertanyaan yang muncul disebabkan ketidakmatangan jawaban teman-teman yang memicu munculnya berbagai pertanyaan. Jadi, berhati-hatilah.

Baca juga Tips Sukses Menghadapi Ujian

Baca juga Sedikit Tips Sidang Skripsi

Baca juga 7 Macam-macam Sikap yang Harus Diketahui



Sumber Gambar
http://go.stp-bandung.ac.id/index.php/id/berita/daftar-berita/853-ujian-sidang-periode-bulan-januari-2016


Tips Sukses Menghadapi Ujian

Merupakan hal yang mutlak bagi mahasiswa untuk melalui dan menghadapi ujian sidang setelah menyelesaikan tugas akhir. Ujian Sidang secara tidak langsung merupakan titik kulminasi selama melakukan proses perkuliahan. Tentu saja untuk hasil yang optimal, teman-teman harus mempersiapkan sebaik dan seoptimal mungkin. Sewaktu Ujian Sidang Skripsi saat S1 di Universitas Pendidikan Indonesia, saya berhasil memperoleh Nilai Yudisium (Nilai Ujian Sidang) dengan kualifikasi A tanpa revisi dan hanya dalam kurun waktu kurang dari 30 menit. Tentunya dengan persiapan yang matang dan optimal.



Berikut tips sukses menghadapi ujian sidang menurut Atmazaki :
1. Ujian tugas akhir tidak sekedar menguji kemampuan akademik tetapi juga "sikap akademik". Terkadang penguji melihat atau menguji anda dengan pertanyaan yang aneh. Maka jawablah dengan sangat baik namun berdasarkan pada kenyataan, jangan sampai memancing perdebatan.

2. Jangan ada pertanyaan yang tidak dijawab. Oleh sebab itu dengarkan komentar dan pertanyaan penguji dengan baik, terkadang pertanyaan muncul begitu saja saat penguji memberi komentar. Pegang pena dan kertas untuk mencatat kunci-kunci pertanyaan yang diajukan.

3. Jangan menguasai forum. Sebaiknya tempatkan diri sebagai orang yang sedang belajar. Mengangguk atau katakan "dimengerti" atau "baik saya pertimbangkan" terhadap semua saran. 

4. Bagaimana pun setiap penguji ingin terlihat "gagah"; ingin agar kata-katanya di dengar. Oleh sebab itu anda jangan berupaya lebih gagah dari penguji, maksudnya berkaitan dengan gesture dan mimik wajah, ingat anda sedang dinilai.

5. Selalu lah merasa penguji sedang membantu anda, sehingga anda tidak perlu atau merasa takut. Dengan tidak bersikap gugup, gemetaran, merasa salah ataupun perasaan aneh lainnya.

6. Suara yang kuat diperlukan karna akan menambah kewibawaan. Tetapi sering terjadi suara menjadi tidak kuat disebabkan oleh rasa cemas.

Selain tips ujian dari Atmazaki, hal yang tidak boleh teman-teman lupakan adalah penggunaan dan pengaplikasian "etika" ketika sidang. Berikut ini beberapa etika yang perlu diperhatikan :
1. Etika dimulai ketika mengetuk pintu, ucapkan salam dan bersikap hormat;
2. Tidak duduk sebelum dipersilahkan;
3. Duduk dengan posisi tegap, jika belum dipersilahkan maka meminta izin untuk duduk;
4. Memperkenalkan diri dengan baik dan sopan;
5. Tidak menyela pembicaraan;
6. Meminta izin ketika akan menjawab pertanyaan;
7. Meminta izin untuk menyanggah statement apabila tidak sesuai, dengan cara yang sopan;
8. Menjawab seperlunya namun mendetail (hindari memancing pertanyaan yang tidak diinginkan);
9. Ucapkan terima kasih jika penguji memberikan saran;
10. Jika telah selesai, jangan lupa ucapkan terima kasih dan pamit.

Setelah etika hal yang tidak kalah penting adalah persiapkan materi sebelum ujian sidang.




Referensi 
Atmazaki.2006. Kiat-kiat mengarang dan menyunting. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia

Referensi Gambar
https://www.youthmanual.com/post/dunia-kuliah/jurusan-dan-perkuliahan/10-cara-untuk-mengatasi-stres-ketegangan-ketakutan-dan-rasa-senewen-saat-ujian

Friday, March 02, 2018

Writting Essay Five Paragraph (Menulis Esai 5 Paragraf)



Esai merupakan sebuah karangan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas, lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Dapat kita simpulkan, Esai merupakan karangan yang bersifat opini atau argumentatif, opini tersebut diikuti dengan fakta-fakta atau isu-isu logis.

Baca juga Menulis Proposal Penelitian Skripsi, Tesis dan Disertasi Part 1

Pada dasarnya ada tiga hal utama dalam membentuk atau membuat esai, yaitu (1) pendahuluan; (2) pembahasan; dan (3) kesimpulan. Atmazaki menjelaskan "Menulis Esai 5 Paragraf" sebagai berikut:

Paragraf 1 (Pendahuluan)
1. Pembukaan (terdiri dari: generalisasi, anekdot, dan pertanyaan)
2. Penjelasan Pembuka (menuju ke pertanyaan tesis/penelitian)
3. Pernyataan Tesis/penelitian (nama, judul, peristiwa; argumen umum, 3 alasan mengapa argumen anda benar

Paragraf 2 (Pembahasan)
1. Kalimat pembuka (yang menyinggung tema 1)
2. Penjelasan
3. Bukti A
4. Penjelasan tentang Bukti A
5. Kesimpulan mini hanya tentang tema 1

Paragraf 3 (Pembahasan)
1. Kalimat pembuka (yang menyinggung tema 2)
2. Penjelasan
3. Bukti B
4. Penjelasan tentang Bukti B
5. Kesimpulan mini hanya tentang tema 2

Baca juga Contoh Mini Paper

Paragraf 4 (Pembahasan)
1. Kalimat pembuka (yang menyinggung tema 3)
2. Penjelasan
3. Bukti C
4. Penjelasan tentang Bukti C
5. Kesimpulan mini hanya tentang tema 3

Paragraf 5 (Simpulan)
1. Kalimat transisi yang mengikat esai kembali ke anekdot, kutipan dan generalisasi)
2. Konfirmasi kembali argumen anda, jelaskan bagaimana anda membuktikannya (di sini diperlukan pernyataan yang tegas)
3. Kemungkinan muncul ide baru yang terkait dengan tesis/penelitian anda (tidak harus)

Selain struktur esai seperti yang telah dijelaskan, penting juga untuk dipahami bahwa dalam satu paragraf terdiri dari beberapa kalimat dan bervariasi. Struktur esai tersebut dapat digunakan untuk menulis artikel ilmiah, artikel populer, termasuk laporan penelitian dan skripsi/tesis/disertasi.

Baca juga Tips dan Trik Menulis

Referensi 
Atmazaki.2006. Kiat-kiat mengarang dan menyunting. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia





Ordinary

7 Cara untuk Ibu Hindari Stunting: Penderita Stunting Indonesia 35,6% Melebihi Batas Maksimal

Hati-hati pada stunting terutama pasangan muda! Beberapa hal yang sederhana namun sangat penting dan berpengaruh acapkali diabaik...