Wednesday, April 05, 2017

Contoh Mini Paper

Mini Paper struktur penulisannya persis seperti Makalah, hanya saja Mini Paper memiliki ketebalan halaman yang lebih sedikit daripada Makalah. Berikut ini merupakan contoh Mini Paper, silahkan untuk dibaca dan dipelajari. Hindari "Copy Paste" karena itu akan mengakibatkan kemiskinan intelektual dan pembodohan terhadap diri sendiri.

MODEL PEER TEACHING DALAM PENGEMBANGAN
 PENDIDIKAN SENI TARI

MINI PAPER
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Seni Tari
Dosen: Rosarina Giyartini, M.Pd.
   




Disusun Oleh
Annisa Anita Dewi                1205341

Interes Inggris
Semester 6


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS TASIKMALAYA

                                                                   2015  






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
     Sehubungan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah pendidikan seni tari, maka disusunlah Mini paper ini. Mini paper ini mengadaptasikan model pembelajaran peer teaching dalam pengembangan pendidikan seni tari. Irma Damajanti (Dalam Psikologi Seni, 2013 hal 13) seni sudah ada sejak awal keberadaan manusia. Homo sapiens, nenek moyang kita yang paling awal yaitu manusia Cro-Magnon (33.000-10.000 SM), membuat lukisan dan mungkin juga musik, tari, dan drama. Menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan, manusia pertama tersebut menutupi dinding gua dengan lukisan binatang buruannya.
     Dengan demikian, seni tari sudah ada bahkan sejak zaman manusia homo sapiens atau manusia Cro-Magnon. Namun, saat ini seni di geluti oleh orang-orang yang profesional di bidangnya. Sehingga tidak semua orang mampu dan bisa melakukannya, dengan begitu dibutuhkan suatu cara ataupun strategi untuk menyampaikan seni tari yang lebih mudah dan optimal.

B.  Rumusan Masalah
     Adapun rumusan masalah mengenai pembelajaran sastra adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Seni Tari dan Kreatifitas?
2.      Bagaimana Model Peer Teaching dalam Pengembangan Pendidikan Seni Tari?

C.  Tujuan
     Adapun tujuan mengenai pembelajaran sastra adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui Seni Tari dan Kreatifitas;
2.      Mengetahui dan menjelaskan Model Peer Teaching dalam Pengembangan Pendidikan Seni Tari.



                                                                           BAB II
PEMBAHASAN

A.  Seni Tari dan Kreatifitas
     Dewasa ini seni tari selain dilakukan oleh para praktisi dan profesionalitas juga  menjadi bagian integral dari mata pelajaran. Di SD misalnya, pendidikan seni tari sudah menjadi pembelajaran tambahan disekolah. Bahkan adapula ekstrakurikuler yang mewadahi minat siswa dalam seni tari. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah tidak semua guru memiliki skill untuk membelajarkan seni tari. Sehingga tak ayal seni tari dipandang sulit, hanya segelintir orang saja dan yang memiliki bakat yang menguasainya. Tentunya dalam seni tari membutuhkan kreatifitas untuk pengembangannya.
     Wallas (dalam Psikologi Seni, Irma Damajanti, 2013 hal 23-24) mengemukakan bahwa proses kreasi melibatkan empat tahap yang berurutan, yaitu :
1.    Preparation (tahap persiapan atau masukan) ialah tahap pengumpulan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah. Dengan berbekal bahan pengetahuan maupun pengalaman, individu menjajag bermacam-macam kemungkinan penyelesaian masalah. Disini belum ada arah yang pasti atau tetap, akan tetapi alam pikirannnya mengeksplorasi macam-macam alternatif. Pada tahap ini pemikiran pemikiran divergent dan pemikiran kreatif sangat penting.
2.   Incubation (tahap pengeraman) ialah tahap ketika individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut., dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeraminya” dalam alam pra sadar.  Sebagaimana dilaporkan dari analisa biografi maupun laporan-laporan tokoh-tokoh seniman dan ilmuan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi. Mereka semua melaporkan bahwa inspirasi yang merupakan titik awal dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah pra sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh.
3.    Illumination (tahap inspirasi) ialah tahap timbulnya insight atau Aha-Erlebnis, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4.    Verification (tahap pembuktian atau pengujian) disebut juga tahap evaluasi, ialah tahap ketika ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran yang kritis dan konvergen. Dengan perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh pemikiran konvergen (pemikiran kritis). Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif. Akseptasi total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran yang logis. Keberanian harus diikuti dengan sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengkajian terhadap realitas (reality-testing).
     Bertolak dari pendapat Wallas, proses kreasi pun memiliki beberapa tahap. Dalam pengembangan ide atau gagasan yang kreatif harus diikuti dengan keadaan realita. Berimajinasi pun harus diikuti dengan pemikiran yang logis. Dengan begitu, proses menghasilkan suatu gerakan tari ataupun bentuk lainnya diperlukan pemikiran dan sikap selektif.

B.  Model Peer Teaching dalam Pengembangan Pendidikan Seni Tari
     Terdapat tiga konsep yang menjadi ciri ataupun indikator dari Peer Teaching, yaitu konsep pertama bahwasannya model pengajaran ini tergantung dari strategi yang digunakan siswa untuk mengajarkan siswa lainnya, konsep kedua bahwasannya Peer Teaching ini berbeda dengan belajar bersama, karena dalam kondisi ini siswa dipasangkan dan diberi tanggung jawab untuk mengajarkan kepada siswa yang lain, sedangkan konsep ketiga bahwasannya model pembelajaran Peer Teaching berbeda dan jangan disamakan dengan pembelajaran berkelompok.
     Eka Nugraha dan Helmy Firmansyah (2013 hal 157-) pada model Peer Teaching guru harus dapat menahan dan membatasi kesemuanya, kecuali satu yaitu mengatur interaksi yang mungkin terjadi baik selama maupun setelah proses percobaan mengajar tersebut. Tanggungjawab yang lebih besar kemudian dibebankan kepada siswa yang kemudian disebut dengan tutor yang telah dilatih sebelumnya untuk mengawasi dan menganalisa siswa yang lainnya.
     Istilah dalam Peer Teaching mungkin akan sedikit membingungkan. Untuk mencegahnya, maka keempat istilah yang akan sering muncul dalam pembahasan ini akan dijelaskan sebagai berikut :
1.    Tutor           : orang yang berperan sebagai pengajar.
2.    Learner       : orang yang berlatih dibawah pengawasan tutor.
3.    Dyad          : pasangan tutor dengan learner.
4.    Student       : istilah untuk keseluruhan siswa yang ada dalam suatu kelas diluar peran mereka sebagai tutor dan learner.
     Model Peer Teaching ini dapat diterima karena dapat membantu mengurangi permasalahan. Ketika mereka berperan sebagai learner, setiap siswa memiliki tutor masing-masing yang bertugas mengawasi dan mengalisa setiap kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Dan ketika berperan sebagai tutor, siswa secara kognitif mampu meningkatkan pemahamannya terhadap tugas yang diberikan sehingga dapat berlatih dengan benar ketika tiba gilirannya untuk menjadi learner.
     Peer Teaching memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan perkembangan kognitif siswa. Untuk menjadi tutor yang baik, siswa harus mengetahui kunci dalam memperagakan sebuah petunjuk gerakan dan memahami hubungan antara petunjuk yang diberikan dengan hasil latihan yang harapkan.
     Melalui model  Peer Teaching ini yang diaplikasikan dalam pengembangan pembelajaran pendidikan seni tari dapat mempermudah dan mempercepat pemahaman dan meningkatkan skill siswa. Sehingga tidak ketergantungan kepada guru, dengan mengaplikasikan  model Peer Teaching pembelajaran menjadi lebih efektif dan capaian-capaian dapat dicapai secara efisien.
    

 
BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
     Model Peer Teaching merupakan salah satu bentuk terobosan dalam pengembangan pembelajaran pendidikan seni tari di sekolah. Membantu guru dan mengoptimalisasikan efektifitas waktu yang tersedia dengan capaian-capaian. Selain itu, model Peer Teaching membantu dan memberi kesempatan lebih kepada siswa untuk mengeksplorasi dirinya dan membuat siswa lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap beban yang diberikan kepadanya.

B.  Rekomendasi
     Selayaknya untuk dapat mewujudkan tipe belajar students center, guru tidak melulu memberikan tugas atau diskusi saja. Namun, diharapkan model Peer Teaching ini dapat digunakan sebagai salah satu terobosan baru guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemandirian serta tanggungjawab dalam diri siswa.

  


DAFTAR PUSTAKA

     Nugraha Eka & Helmy Firmansyah. 2013. Didaktik metodik pembelajaran aktivitas akuatik. Bandung: UPI Press

     Irma Damajanti. 2013. (cetakan kedua). Psikologi seni. Bandung: kiblat













 
    

Student Exchanges: Tang Kuan Hill Lift Station

Foto Annisa Anita Dewi
Sebagai pelajar apalagi yang mengembara di negeri orang, tentu banyak hal-hal baru yang ditemui. Setiap perjalanan yang dimulai dari langkah pertama terekam banyak momen, sayangnya tidak semua individu peka dan menyadari bagaimana setiap kejadian yang terekam bahkan menjadi monumental. Hal-hal baru yang akan ditemui adalah (1) Orang-orang yang akan kita temui masing-masing memiliki karakter dan warna masing-masing, jadi anda harus pandai membawa diri; (2) Lingkungan yang baru dengan kebiasaan dan rutinitas yang berbeda dari lingkungan sebelumnya; (3) Kultur yang menuntut anda untuk bisa beradaptasi.

Hal-hal baru yang akan ditemui tidak terkecuali efek hormon yang mempengaruhi, misalnya rasa bosan. Sebagai pelajar untuk bisa survive artinya harus dapat beradaptasi setidaknya secara garis besar meliputi tiga poin tadi, yaitu orang-orang, lingkungan dan kultur.  Tinggal di negeri orang jangan sampai melewatkan waktu berlalu begitu saja. Tidak dipungkiri selain dijejali dengan aktivitas sehari-hari misalnya mengikuti pembelajaran, tugas-tugas ataupun mengajar bagi pengajar. Dari 7 hari dalam satu minggu tentunya ada 1 atau 2 hari yang kosong.
Foto Annisa Anita Dewi
Ketika Student Exchanges di Thailand saya memiliki waktu senggang pada hari sabtu. Kala itu bertepatan dengan Independen Day Republik Indonesia, saya memutuskan untuk ke Konsulat RI di Songkhla. Dengan waktu dua hari yang dimiliki saya memanfaatkan waktu yang singkat tersebut untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di dekat Konsulat RI. Cukup di tempuh dengan berjalan kaki dari Konsulat RI selama 10 menit saya tiba di Tang Kuan Hill Lift Station.
Foto Annisa Anita Dewi


Di sekitar Tang Kuan Hill Lift Station banyak sekali kera yang berkeliaran, karena itu jika anda berkesempatan mengunjungi tempat ini untuk lebih berhati-hati terutama makanan yang anda bawa. Nama ‘Lift Station’ di belakang Tang Kuan Hill menunjukkan hal yang paling menonjol di tempat ini, karena untuk sampai ke atas Bukit kita harus menggunakan sebuah lift yang curam kurang lebih 100 m ini adalah lift terpanjang yang pernah saya coba. Untuk menggunakan lift ini dikenakan TB 30 atau setara dengan IDR 12.000 pada 2015 lalu, harga sewaktu-waktu bisa berubah.

Sesampainya di atas tampak pemandangan yang memanjakan mata. District Songkhla terlihat dengan jelas dari Tang Kuan Hill Top beserta pemandangan pantai. Selain pemandangan di sini kita akan menemui beberapa patung Budha dan Lonceng kira-kira berukuran 1 m. Selain itu, yang menarik pengunjung adalah ‘Love Locks Tang Kuan Hill Top’  di sana disediakan beberapa bingkai berbentuk jantung hati yang terbuat dari besi berukuran besar dan tempat yang badannya terpasang lonceng beserta gembok berbentuk jantung hati.
Foto http://scdhaseinphoto.blogspot.co.id/
Di sekitar Tang Kuan Hill Lift Station ada gerai-gerai yang menjual aneka souvenir, umumnya berupa hasil kerajinan seperti anyaman tas, tirai, pernak-pernik hiasan rumah dan postcard. Di depan Tang Kuan Hill Lift Station terdapat beberapa penjual jajanan, yang paling menarik dari semua jajanan adalan es krim yang wadahnya terbuat dari batok kelapa.  

Untuk pelajar ataupun bagi anda yang mengembara di negeri orang atau sederhananya di kota orang, jangan sampai menghabiskan waktu luang dengan hal-hal yang kurang bermanfaat atau menjenuhkan. Seperti tidur dan seharian menonton televisi, gunakan waktu luang anda seoptimal mungkin untuk mengunjungi atau sekedar jalan-jalan di tempat pengembaraan anda untuk me-recharge semangat, energi dan mengembalikan moody.



Friday, March 31, 2017

“I” Visited Prince of Songkla University

foto muka, http://hoteldekatkampus.com/wp-content/uploads/2014/12/Prince-of-Songkla-University.jpg
Prince of Songkla University merupakan universitas pertama di Thailand Selatan dikenal dengan sebutan PSU. Seperti Universitas Pendidikan Indonesia dikenal dengan sebutan UPI, tidak hanya nomenklatur ada kesamaan antara PSU dan UPI. Kedua kampus ini merupakan multi kampus.

UPI dan PSU Multi Kampus
UPI terdiri dari 5 Kampus, yakni UPI Kampus Cibiru, UPI Kampus Purwakarta, UPI Kampus Sumedang, UPI Kampus Tasikmalaya dan UPI Kampus Serang. Begitupun dengan PSU terdiri dari 5 Kampus, yakni PSU Kampus Hatyai, PSU Kampus Pattani, PSU Kampus Phuket, PSU Kampus Surat Thani dan PSU Kampus Trang. Dengan demikian kedua universitas ini sama-sama multi kampus.
Berawal dari 08 Agustus 2015 lalu ketika saya mengikuti Program Student Exchanges to Thailand menjadi duta perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia, saya berkesempatan mengunjungi Prince of Songkla University Kampus Hat Yai dan Kampus Pattani di Thailand Selatan. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran berharga yang diperoleh. Saya mengunjungi beberapa fakultas dan menjelajahi PSU Kampus Hatyai yang menjadi kampus utama.

Foto Annisa Anita Dewi
Orientasi Mahasiswa Baru di PSU
Agustus 2015 lalu bertepatan dengan kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru di Prince of Songkla University kampus Hat Yai. Ada kesamaan culture orientasi mahasiswa baru dengan Indonesia. Seperti mengumpulkan persyaratan diantaranya berupa snack kepada panitia, rambut diikat beberapa ikatan dan atribut lainnya yang dipersyaratkan panitia.

Foto Annisa Anita Dewi


Sedangkan di Indonesia culture orientasi mahasiswa baru seperti itu sudah ditinggalkan. Hal itu disebabkan berbagai sebab terutama dari nilai-nilai yang cenderung lebih banyak negatifnya, seperti perpeloncoan.

Sekilas tentang PSU
PSU (Prince of Songkla University) didirikan pada 1967 lalu, nama universitas ini diberikan oleh Raja Bhumibol Adulyadej. PSU merupakan anggota dari 9 perguruan tinggi national project universitas riset Thailand, PSU merupakan universitas riset terkemuka di Thailand. Hebatnya lagi PSU sangat dihormati dalam bidang pendidikan internasional dan saat ini PSU memiliki 300 lebih MoU dengan seluruh dunia, yaitu benua Afrika meliputi Mesir, Maroko, Namibia, Nigeria, Sudan, benua Asia meliputi Brunei, Kamboja, Cina, Indonesia, Jepang, Laos, Malaysia, Mongolia , Myanmar, Nepal, Pakistan, Philipina, Korea Utara, Taiwan, Vietnam, benua Eropa meliputi Austria, Belgia, Bosnia and Herzegovina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Belanda, Norwegia, Portugal, Federasi Rusia, Serbia, Spanyol, Swedia, United Kingdom, Timur Tengah meliputi Yordania, Oman, Turki, United Arab Emirates, Amerika Utara meliputi Kanada, USA, Oceania, Australia, New Zealand.

Di PSU setiap fakultas memiliki jenis atau tanda seragam sendiri, hal itu memiliki fungsi untuk membedakan mahasiswa masing-masing fakultas. Jika tidak menggunakan pakaian yang telah ditetapkan maka tidak diperbolehkan untuk masuk kelas maupun mengikuti perkuliahan. Sedangkan untuk PSU Kampus Pattani yang letaknya berada di daerah mayoritas islam, maka pakaian pun menyesuaikan.

Friday, March 24, 2017

Menjadi Guru di Negeri Gajah Putih Thailand


Kita tidak pernah tahu takdir Tuhan yang manakah yang terbaik untuk kita. Dinamika kehidupan yang terus melangkah kedepan seperti misteri yang tidak akan pernah tepat di prediksi atau sesempurna rencana yang digambarkan. Satu hal yang pasti segalanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta dengan rencana terbaiknya.

Pada Juni 2015 lalu saya berkesempatan mengaplikasikan pengalaman, ilmu, pengetahuan dan wawasan di Negeri Gajah Putih, yang dikenal dengan Negara Thailand. Tidak ada persiapan yang sangat matang. Saya mempersiapkan keberangkatan ke Negeri Gajah Putih kurang lebih selama satu bulan.

Selama satu bulan saya ke sana ke mari mengurus berbagai persyaratan. Adapun paspor adalah bagian yang terpenting dari segalanya. Setelah paspor selanjutnya mempersiapkan Visa. Kesempatan itu datang dengan mendadak tanpa sinyal aba-aba, sehingga saya belum sempat mempelajari bahasa Thai.

Bahasa itu penting, salah satunya sebagai alat komunikasi. Saya mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Awalnya saya cukup merasa tenang karena saya bisa menggunakan bahasa Inggris. Saat itu saya berpikir demikian karena sampai saat ini Bahasa Inggris adalah English International Language dan sebagai Lingua Franca. Artinya setidaknya mereka dapat menggunakan bahasa Inggris meski sekedar Inggris Pasif.


Hari kedua saya di Negeri Gajah Putih saya sudah dipanggil oleh Guru Besar di Mulnithi Chumchon Islam Seuksa Foundation School Thailand. Saya diberikan rambu-rambu untuk menjadi Guru di sekolah tersebut. Di meja tanpa diameter saya duduk diantara pengajar senior dan Guru Besar di sana. Akhirnya kesempatan saya menjadi Guru di Negeri Gajah Putih diputuskan mengajar di tingkat SD, SMP dan SMA.
Sekali lagi, semua tidak seperti yang direncanakan. Tuhan memahamkan saya dengan long life education. Saya harus mempelajari bahasa Thai, karena mereka lebih banyak tidak mengerti akan bahasa Inggris. Kendala pertama saya adalah bahasa. Seperti yang telah saya peroleh semasa kuliah, saya ingat bahwa sebagai Guru terlebih dahulu kita harus masuk ke dunia anak didik kita untuk mengenal dan memahami lebih jauh dan selanjutnya barulah memperkenalkan atau mengajak mereka ke dunia kita untuk mentransformasikan ilmu dan pengetahuan.

Saya mempelajari bahasa Thai sedikit demi sedikit dimulai dengan pronounciation Phasa Thai. Semuanya dilakukan secara bertahap. Saya belajar pronounciation dengan berbincang atau membuka obrolan dengan anak-anak. Selalu ingat bahwa kita bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan dari siapapun, maka dari sekarang singkirkanlah sesuatu yang bernama “gengsi”. Jika anda ingin maju dan berkembang, lupakanlah “gengsi” karena tidak memberikan dampak apapun selain menutup kesempatan untuk mengupgrade kualitas diri. Di Thailand Guru dipanggil dengan sebutan Kru, Achan, Guru dan Kak (bagi Guru Melayu).


Perjalanan saya menjadi Guru di Negeri Gajah Putih saat itu saya tengah menjadi mahasiswa semester 6 di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Memiliki keinginan semakin kuat dengan di motivasi oleh Ketua Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya, Dindin Abdul Muiz L., S.Si., S.E., M.Pd. dan diberi peluang oleh Ketua Prodi PGPAUD yang pada saat itu sebagai Pembimbing Akademik saya, Drs. Edi Hendri, M.Pd. untuk dapat melakukan penelitian Tugas Akhir Strata 1 di Negeri Gajah Putih. Pada awal Juni 2015 secara resmi menjadi Duta Perguruan Tinggi Indonesia dari Universitas Pendidikan Indonesia dan melaksanakan kegiatan mengajar sebagai bagian dari KKL dan PPL difasilitasi oleh Edutech Consultant.

Menjadi Guru pada realitanya tidak mudah. Karena menjadi Guru bukan bekerja melainkan mengabdi. Perlu kesabaran dan totalitas karena menjadi Guru bukan sekedar mentransformasikan ilmu, tapi juga mendidik. Jika anda menjadikan Guru dengan tujuan bekerja untuk memperoleh kepingan rupiah, sebaiknya rubah mindset tersebut. Karena menjadi Guru bukan sekedar profesi tapi mengabdi, sebagaimana yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003.



Thursday, March 23, 2017

Mengubah Kesulitan Menjadi Kekuatan

Tidak dipungkiri dan tidak akan terelakan, bahwa kehidupan akan terus berputar seperti jarum jam. kadang di atas kadang di bawah.

Menjadi bagian dalam ruang kebahagiaan barangkali hal yang seringkali terlupakan adalah bersyukur. Sedikit atau banyak seyogyanya syukur itu hadir. Kesempatan berharga adalah ketika menciptakan dan membentuk kebahagiaan, karena bahagia bukanlah dicari. Sejauh apapun anda pergi, mengasingkan diri, menyelinap dari keramaian, jika memang resah maka itu akan tetap ada.
Seribu langkah pun anda berlari atau melarikan diri dari kenyataan yang tidak ingin disentuh, resah dan gelisah itu akan tetap ada. Dimana pun sekalipun tanpa gemerlap kemewahan bahagia akan selalu ada, karena bahagia anda sendiri yang menciptakan.

Ketidak beruntungan adalah ketika anda lupa bagaimana bersyukur di setiap detiknya. Masalah? pasti ada dan semua orang memilikinya. Masalah bukan untuk dipermasalahkan, tapi dihadapi dan diselesaikan. Masalah yang ada bisa jadi bagian dari kesulitan yang Tuhan berikan untuk anda ubah menjadi kekuatan. Terkadang kesulitan itu perlu untuk terus menempa siapa anda, bagaimana anda menyikapinya, bagaimana anda memandangnya. Kesulitan hadir bukan untuk dikeluhkan selain dari padaNya. Kesulitan ada dalam hidup adalah untuk dibuah menjadi kekuatan. Kekuatan yang bisa jadi menjadi batu loncatan anda lebih hebat dari saat ini.

Don't miss it! Masih banyak daftar mimpi anda yang harus diwujudkan. Bergeraklah, berjuanglah dan yakinlah saat itu akan tiba.

Monday, February 27, 2017

Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?

sumber: http://pgsd-tasikmalaya.upi.edu/
Berikut ini artikel saya mengenai mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuk dan dilemanya menyusun tugas akhir dengan sejuta halangan yang menguji dan mencoba.


artikel ini telah di publikasikasikan di laman resmi Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya.




Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?


Semester 7 adalah gerbang menuju titik kulminasi mahasiswa tingkat akhir. Satu per satu mulai membayangi tentang hiruk pikuknya kesibukan sebagai mahasiwa tingkat akhir. Tugas akhir? Stop! Berhenti bertanya. Jangan lanjutkan. Seolah seperti momok yang menakutkan, rasanya telinga menjadi lebih sensitif ketika disinggahi petanyaan “sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir ya?” atau “bagaimana rencana tugas akhirnya?”.



Apalagi bagi mahasiswa yang notabene-nya aktif menggunakan media sosial terutama internet. Tengok timeline BBM atau Instagram ada yang memposting tentang mahasiswa tingkat akhir dan segala kesibukannya pun dengan perjuangan menyelesaikan tugas akhir sarjana, bawaannya menjadi “baper” (baca: bawa perasaan). Alhasil menjadi triple ekstra sensisitif.



Responsif Dilema Mahasiswa

Sebagian mahasiswa yang menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir mulai mengencangkan ikatan dengan mempersiapkan berbagai hal. Seperti menyiapkan rencana penelitian tentang tugas akhir, mulai memikirkan apa yang akan menjadi masalah atau subjek penelitian, atau sekedar “kepo” dengan bertanya-tanya bagaimana prosedural kepada bagian akademik atau prodi maupun bertanya-tanya kepada kakak tingkat yang sudah lulus melalui akun sosial.


Sedangkan bagi sebagian lagi, ada yang masih bersikap acuh tak acuh dan memilih tutup telinga atau menghindar ketika ditanya tentang status sebagai mahasiswa akhir dan rencana tugas akhir. Pokoknya “gimana nanti saja”. Sebaiknya hal ini harus dihindari dan jangan ditiru. Mulailah berpikir “nanti bagaimana?” bukan sebaliknya seperti pilihan pada umumnya “gimana nanti saja”.



Mulailah Eksekusi

Sedikit demi sedikit lakukan eksekusi untuk setiap mimpi dan masa depan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir mau tidak mau, siap tidak siap tentu pasti akan menjalaninya. Jangan sampai anda hanya “melewatinya” saja, melainkan “menjalaninya” mengapa? Karena dalam menjalaninya anda tidak hanya menghadapinya dan melewatkan secara cuma, ada dan banyak pelajaran terbaik yang diperoleh.


Mulailah dari hal-hal kecil, seperti pola atau kebiasaan menjadi kebiasaan yang sehat, baik, bermanfaat dan menjanjikan. Biasakan untuk tidur tidak melewati larut malam dan terbangun di sepertiga malam atau sebelum subuh menjelang. Kesehatan tak kalah penting, jagalah pola hidup sehat. Karena tanpa badan yang sehat tidak akan tercipta akal dan pikiran yang digunakan secara jernih atau untuk sekedar berpikir.



Mahar Tugas Akhir Sarjana

Mulai rapihkan file-file di komputer dan buat folder baru dengan judul “Mahakarya tugas akhir” atau yang lebih spektakuler “Mahar tugas akhir sarjana”. Pertama azzam, niatkan yang benar kemudian buatlah target capaianmu. Ambil kertas atau klik stiky note di komputer dan mulailah menulis list progress capaianmu. Sedikit demi sedikit tidak akan ada yang sia-sia biarpun “pasti” akan menemui kegagalan demi kegagalan, tapi jangan takut!


Jangan takut karena anda bukan sedang memutuskan keputusan terbesar dalam hidupmu untuk menikah misalnya. Anda hanya sedang mulai masuk dan menjalani dilema dan romantika sebagai mahasiswa tingkat akhir. Yang tercepat menyelesaikan studi akhirnya bukan berarti kualitasnya buruk pun bagi yang terlambat menyelesaikan tugas akhirnya bukan berarti buruk pula. Hindari mindset seperti itu dan berhenti berpikir underestimate. Namun, tentu saja menyelesaikan tugas akhir dengan kualitas terbaik dalam waktu yang cepat itu lebih baik dan harus diperhitungkan.



Harga yang harus Anda Bayar

Karena kebaikan tidak baik untuk ditunda, segerakanlah dan untuk hasil yang optimal ada harga yang harus anda bayar untuk itu. Hasil yang optimal dan kualitas terbaik tentu tidak diperoleh dengan percuma,ingat selalu "ada perjuangan yang tidak sedikit, ada peluh dan mimpi yang bertaruh, ada hal yang lebih tidak menyenangkan dari kepahitan saat mencapainya. Anda harus siap membayar sebesar mimpi yang anda targetkan, yang anda inginkan".


Jangan pernah berpikir yang penting jadi “skripsi” dan kemudian selesai. Jangan pernah bangga karena anda hanya mendapat satu atau beberapa kali revisi saja. Jangan terlalu bahagia saat anda mendapatkan tanda tangan dosen dengan mudahnya. Karena anda baru saja kehilangan sebuah proses dari bagian mimpi masa depan anda.



Bersyukurlah jika anda mendapatkan banyak arahan dan bimbingan dari dosen pembimbing, jangan mengeluh karena anda baru saja memulai proses penting, tentu dalam hal ini dibutuhkan kepekaan dan bagaimana menyerap serta memfilter apa-apa saja yang telah diarahkan kepada anda, sekali lagi jangan sampai mengeluh! Ini proses penting yang terlalu mahal untuk dilewatkan.



Tidak salah jika seharusnya anda pun berpikir mengapa anda dengan mudah memperoleh tanda tangan atau persetujuan dari dosen, pertama “skripsimu terlalu biasa atau biasa saja” dan kedua “usahamu kurang dalam membangun chemistry”. Jangan sampai anda asal jadi membuat skripsi yang penting jadi dan lulus memperoleh gelar sarjana tapi realitanya “nol”. Melalui skripsi yang sedang anda capai, apa yang ingin anda sampaikan? Apa yang ingin anda tunjukkan? Apa yang berbeda dari skripsi anda? Ekspresikan, dan buat terus capaiannya.



Monday, July 06, 2015

Ramadhan Pertama di Negeri Gajah Putih

Sebuah perasaan yang memaksa. Suka tidak suka, mau atau tidak ramadhan kali ini harus terpisah dari keluarga dan orang-orang tercinta. Bukan hanya perasaan saja yang berbeda karena menjalani ramadhan tanpa kehadiran orang-orang yang telah biasa memberi warna dalam kehidupan sehari-hari, tapi makanan dan kebiasaan yang jauh berbeda dari biasanya. Jika di Indonesia setiap sore hari orang beramai-ramai pergi ngabuburit ataupun ketika hendak sahur dan akan berbuka orang beramai-ramai menabuh bedug, di Negeri Gajah Putih ini tidak ada hal-hal seperti itu.
Ada perasaan terpukul yang membekas diingatan, semua yang biasa dilakukan dan di dapatkan dengan mudah di Indonesia, disini tidak. Sekedar buka puasa bersama di mesjid pun tidak ada. Sedangkan di Indonesia, nyaris di setiap mesjid pasti ramai dengan orang-orang yang berbuka puasa bersama. Terkadang diri ini sering hanya melewatkannya begitu saja. Betapa terlambat menyadarinya, bahwa setiap momentum itu harus benar-benar di nikmati dan di syukuri. Agar tidak ada perasaan menyesal yang membekas, ketika telah melewatkannya dan ada dalam keadaan yang menginginkan momen yang telah berlalu.

Semua berawal dari tiga pekan lalu, saat aku baru tiba di Negeri Gajah Putih untuk melakukan Study. Kedatangan pada saat momen yang memberi kesan tersendiri bagiku, saat harus menemui ramadhan di Negeri Gajah Putih. Tepatnya ramadhan pertamaku di Negeri Gajah Putih. Berada dibawah langit yang sama, tapi berpijak di tempat yang berbeda. Makanan di Negeri Gajah Putih ini di dominasi oleh seafood dan daging, sedangkan harga sayur sangat tinggi. Sekali lagi, mau tidak mau harus bisa menerima dengan kenyataan.

Perbedaan waktu dan cuaca memberikan perasaan cemburu. Waktu yang sama dengan Indonesia, tapi jadwal shalat dan berbuka lebih lama. Jika di Indonesia pukul 17.44 sudah magrib dan berbuka, di Negeri Gajah Putih ini pada pukul 18.30 pun langit masih terang benderang. Waktu siang disini lebih lama daripada di Indonesia, sehingga magrib jatuh pada pukul 18.45. perasaan cemburu semakin merangsek, ketika banyak message dan status di media sosial yang mengucapkan “Selamat Berbuka Puasa” sedangkan di Negeri Gajah Putih masih menunggu waktu untuk berbuka.

Kesan dan beberapa kejadian tersebut memberikan sentuhan pesan halus, mengingatkan diri ini untuk selalu berlapang dada, bersyukur dan mencintai tanah sendiri. Perkara melewati momentum ramadhan di negeri orang, meninggalkan perasaan yang tak pernah pergi. Mengingatkan akan sejumput gumaman ‘biasanya kalau di Indonesia...’ selalu ada cerita yang hadir yang tak bisa untuk dilupakan.


Annisa Anita Dewi, 23 Juni/Thailand 2015

Ordinary

7 Cara untuk Ibu Hindari Stunting: Penderita Stunting Indonesia 35,6% Melebihi Batas Maksimal

Hati-hati pada stunting terutama pasangan muda! Beberapa hal yang sederhana namun sangat penting dan berpengaruh acapkali diabaik...