Friday, March 24, 2017

Menjadi Guru di Negeri Gajah Putih Thailand


Kita tidak pernah tahu takdir Tuhan yang manakah yang terbaik untuk kita. Dinamika kehidupan yang terus melangkah kedepan seperti misteri yang tidak akan pernah tepat di prediksi atau sesempurna rencana yang digambarkan. Satu hal yang pasti segalanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta dengan rencana terbaiknya.

Pada Juni 2015 lalu saya berkesempatan mengaplikasikan pengalaman, ilmu, pengetahuan dan wawasan di Negeri Gajah Putih, yang dikenal dengan Negara Thailand. Tidak ada persiapan yang sangat matang. Saya mempersiapkan keberangkatan ke Negeri Gajah Putih kurang lebih selama satu bulan.

Selama satu bulan saya ke sana ke mari mengurus berbagai persyaratan. Adapun paspor adalah bagian yang terpenting dari segalanya. Setelah paspor selanjutnya mempersiapkan Visa. Kesempatan itu datang dengan mendadak tanpa sinyal aba-aba, sehingga saya belum sempat mempelajari bahasa Thai.

Bahasa itu penting, salah satunya sebagai alat komunikasi. Saya mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Awalnya saya cukup merasa tenang karena saya bisa menggunakan bahasa Inggris. Saat itu saya berpikir demikian karena sampai saat ini Bahasa Inggris adalah English International Language dan sebagai Lingua Franca. Artinya setidaknya mereka dapat menggunakan bahasa Inggris meski sekedar Inggris Pasif.


Hari kedua saya di Negeri Gajah Putih saya sudah dipanggil oleh Guru Besar di Mulnithi Chumchon Islam Seuksa Foundation School Thailand. Saya diberikan rambu-rambu untuk menjadi Guru di sekolah tersebut. Di meja tanpa diameter saya duduk diantara pengajar senior dan Guru Besar di sana. Akhirnya kesempatan saya menjadi Guru di Negeri Gajah Putih diputuskan mengajar di tingkat SD, SMP dan SMA.
Sekali lagi, semua tidak seperti yang direncanakan. Tuhan memahamkan saya dengan long life education. Saya harus mempelajari bahasa Thai, karena mereka lebih banyak tidak mengerti akan bahasa Inggris. Kendala pertama saya adalah bahasa. Seperti yang telah saya peroleh semasa kuliah, saya ingat bahwa sebagai Guru terlebih dahulu kita harus masuk ke dunia anak didik kita untuk mengenal dan memahami lebih jauh dan selanjutnya barulah memperkenalkan atau mengajak mereka ke dunia kita untuk mentransformasikan ilmu dan pengetahuan.

Saya mempelajari bahasa Thai sedikit demi sedikit dimulai dengan pronounciation Phasa Thai. Semuanya dilakukan secara bertahap. Saya belajar pronounciation dengan berbincang atau membuka obrolan dengan anak-anak. Selalu ingat bahwa kita bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan dari siapapun, maka dari sekarang singkirkanlah sesuatu yang bernama “gengsi”. Jika anda ingin maju dan berkembang, lupakanlah “gengsi” karena tidak memberikan dampak apapun selain menutup kesempatan untuk mengupgrade kualitas diri. Di Thailand Guru dipanggil dengan sebutan Kru, Achan, Guru dan Kak (bagi Guru Melayu).


Perjalanan saya menjadi Guru di Negeri Gajah Putih saat itu saya tengah menjadi mahasiswa semester 6 di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Memiliki keinginan semakin kuat dengan di motivasi oleh Ketua Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya, Dindin Abdul Muiz L., S.Si., S.E., M.Pd. dan diberi peluang oleh Ketua Prodi PGPAUD yang pada saat itu sebagai Pembimbing Akademik saya, Drs. Edi Hendri, M.Pd. untuk dapat melakukan penelitian Tugas Akhir Strata 1 di Negeri Gajah Putih. Pada awal Juni 2015 secara resmi menjadi Duta Perguruan Tinggi Indonesia dari Universitas Pendidikan Indonesia dan melaksanakan kegiatan mengajar sebagai bagian dari KKL dan PPL difasilitasi oleh Edutech Consultant.

Menjadi Guru pada realitanya tidak mudah. Karena menjadi Guru bukan bekerja melainkan mengabdi. Perlu kesabaran dan totalitas karena menjadi Guru bukan sekedar mentransformasikan ilmu, tapi juga mendidik. Jika anda menjadikan Guru dengan tujuan bekerja untuk memperoleh kepingan rupiah, sebaiknya rubah mindset tersebut. Karena menjadi Guru bukan sekedar profesi tapi mengabdi, sebagaimana yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003.



Thursday, March 23, 2017

Mengubah Kesulitan Menjadi Kekuatan

Tidak dipungkiri dan tidak akan terelakan, bahwa kehidupan akan terus berputar seperti jarum jam. kadang di atas kadang di bawah.

Menjadi bagian dalam ruang kebahagiaan barangkali hal yang seringkali terlupakan adalah bersyukur. Sedikit atau banyak seyogyanya syukur itu hadir. Kesempatan berharga adalah ketika menciptakan dan membentuk kebahagiaan, karena bahagia bukanlah dicari. Sejauh apapun anda pergi, mengasingkan diri, menyelinap dari keramaian, jika memang resah maka itu akan tetap ada.
Seribu langkah pun anda berlari atau melarikan diri dari kenyataan yang tidak ingin disentuh, resah dan gelisah itu akan tetap ada. Dimana pun sekalipun tanpa gemerlap kemewahan bahagia akan selalu ada, karena bahagia anda sendiri yang menciptakan.

Ketidak beruntungan adalah ketika anda lupa bagaimana bersyukur di setiap detiknya. Masalah? pasti ada dan semua orang memilikinya. Masalah bukan untuk dipermasalahkan, tapi dihadapi dan diselesaikan. Masalah yang ada bisa jadi bagian dari kesulitan yang Tuhan berikan untuk anda ubah menjadi kekuatan. Terkadang kesulitan itu perlu untuk terus menempa siapa anda, bagaimana anda menyikapinya, bagaimana anda memandangnya. Kesulitan hadir bukan untuk dikeluhkan selain dari padaNya. Kesulitan ada dalam hidup adalah untuk dibuah menjadi kekuatan. Kekuatan yang bisa jadi menjadi batu loncatan anda lebih hebat dari saat ini.

Don't miss it! Masih banyak daftar mimpi anda yang harus diwujudkan. Bergeraklah, berjuanglah dan yakinlah saat itu akan tiba.

Monday, February 27, 2017

Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?

sumber: http://pgsd-tasikmalaya.upi.edu/
Berikut ini artikel saya mengenai mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuk dan dilemanya menyusun tugas akhir dengan sejuta halangan yang menguji dan mencoba.


artikel ini telah di publikasikasikan di laman resmi Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya.




Dilema Kulminasi Mahasiswa Tingkat Akhir?


Semester 7 adalah gerbang menuju titik kulminasi mahasiswa tingkat akhir. Satu per satu mulai membayangi tentang hiruk pikuknya kesibukan sebagai mahasiwa tingkat akhir. Tugas akhir? Stop! Berhenti bertanya. Jangan lanjutkan. Seolah seperti momok yang menakutkan, rasanya telinga menjadi lebih sensitif ketika disinggahi petanyaan “sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir ya?” atau “bagaimana rencana tugas akhirnya?”.



Apalagi bagi mahasiswa yang notabene-nya aktif menggunakan media sosial terutama internet. Tengok timeline BBM atau Instagram ada yang memposting tentang mahasiswa tingkat akhir dan segala kesibukannya pun dengan perjuangan menyelesaikan tugas akhir sarjana, bawaannya menjadi “baper” (baca: bawa perasaan). Alhasil menjadi triple ekstra sensisitif.



Responsif Dilema Mahasiswa

Sebagian mahasiswa yang menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir mulai mengencangkan ikatan dengan mempersiapkan berbagai hal. Seperti menyiapkan rencana penelitian tentang tugas akhir, mulai memikirkan apa yang akan menjadi masalah atau subjek penelitian, atau sekedar “kepo” dengan bertanya-tanya bagaimana prosedural kepada bagian akademik atau prodi maupun bertanya-tanya kepada kakak tingkat yang sudah lulus melalui akun sosial.


Sedangkan bagi sebagian lagi, ada yang masih bersikap acuh tak acuh dan memilih tutup telinga atau menghindar ketika ditanya tentang status sebagai mahasiswa akhir dan rencana tugas akhir. Pokoknya “gimana nanti saja”. Sebaiknya hal ini harus dihindari dan jangan ditiru. Mulailah berpikir “nanti bagaimana?” bukan sebaliknya seperti pilihan pada umumnya “gimana nanti saja”.



Mulailah Eksekusi

Sedikit demi sedikit lakukan eksekusi untuk setiap mimpi dan masa depan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir mau tidak mau, siap tidak siap tentu pasti akan menjalaninya. Jangan sampai anda hanya “melewatinya” saja, melainkan “menjalaninya” mengapa? Karena dalam menjalaninya anda tidak hanya menghadapinya dan melewatkan secara cuma, ada dan banyak pelajaran terbaik yang diperoleh.


Mulailah dari hal-hal kecil, seperti pola atau kebiasaan menjadi kebiasaan yang sehat, baik, bermanfaat dan menjanjikan. Biasakan untuk tidur tidak melewati larut malam dan terbangun di sepertiga malam atau sebelum subuh menjelang. Kesehatan tak kalah penting, jagalah pola hidup sehat. Karena tanpa badan yang sehat tidak akan tercipta akal dan pikiran yang digunakan secara jernih atau untuk sekedar berpikir.



Mahar Tugas Akhir Sarjana

Mulai rapihkan file-file di komputer dan buat folder baru dengan judul “Mahakarya tugas akhir” atau yang lebih spektakuler “Mahar tugas akhir sarjana”. Pertama azzam, niatkan yang benar kemudian buatlah target capaianmu. Ambil kertas atau klik stiky note di komputer dan mulailah menulis list progress capaianmu. Sedikit demi sedikit tidak akan ada yang sia-sia biarpun “pasti” akan menemui kegagalan demi kegagalan, tapi jangan takut!


Jangan takut karena anda bukan sedang memutuskan keputusan terbesar dalam hidupmu untuk menikah misalnya. Anda hanya sedang mulai masuk dan menjalani dilema dan romantika sebagai mahasiswa tingkat akhir. Yang tercepat menyelesaikan studi akhirnya bukan berarti kualitasnya buruk pun bagi yang terlambat menyelesaikan tugas akhirnya bukan berarti buruk pula. Hindari mindset seperti itu dan berhenti berpikir underestimate. Namun, tentu saja menyelesaikan tugas akhir dengan kualitas terbaik dalam waktu yang cepat itu lebih baik dan harus diperhitungkan.



Harga yang harus Anda Bayar

Karena kebaikan tidak baik untuk ditunda, segerakanlah dan untuk hasil yang optimal ada harga yang harus anda bayar untuk itu. Hasil yang optimal dan kualitas terbaik tentu tidak diperoleh dengan percuma,ingat selalu "ada perjuangan yang tidak sedikit, ada peluh dan mimpi yang bertaruh, ada hal yang lebih tidak menyenangkan dari kepahitan saat mencapainya. Anda harus siap membayar sebesar mimpi yang anda targetkan, yang anda inginkan".


Jangan pernah berpikir yang penting jadi “skripsi” dan kemudian selesai. Jangan pernah bangga karena anda hanya mendapat satu atau beberapa kali revisi saja. Jangan terlalu bahagia saat anda mendapatkan tanda tangan dosen dengan mudahnya. Karena anda baru saja kehilangan sebuah proses dari bagian mimpi masa depan anda.



Bersyukurlah jika anda mendapatkan banyak arahan dan bimbingan dari dosen pembimbing, jangan mengeluh karena anda baru saja memulai proses penting, tentu dalam hal ini dibutuhkan kepekaan dan bagaimana menyerap serta memfilter apa-apa saja yang telah diarahkan kepada anda, sekali lagi jangan sampai mengeluh! Ini proses penting yang terlalu mahal untuk dilewatkan.



Tidak salah jika seharusnya anda pun berpikir mengapa anda dengan mudah memperoleh tanda tangan atau persetujuan dari dosen, pertama “skripsimu terlalu biasa atau biasa saja” dan kedua “usahamu kurang dalam membangun chemistry”. Jangan sampai anda asal jadi membuat skripsi yang penting jadi dan lulus memperoleh gelar sarjana tapi realitanya “nol”. Melalui skripsi yang sedang anda capai, apa yang ingin anda sampaikan? Apa yang ingin anda tunjukkan? Apa yang berbeda dari skripsi anda? Ekspresikan, dan buat terus capaiannya.



Monday, July 06, 2015

Ramadhan Pertama di Negeri Gajah Putih

Sebuah perasaan yang memaksa. Suka tidak suka, mau atau tidak ramadhan kali ini harus terpisah dari keluarga dan orang-orang tercinta. Bukan hanya perasaan saja yang berbeda karena menjalani ramadhan tanpa kehadiran orang-orang yang telah biasa memberi warna dalam kehidupan sehari-hari, tapi makanan dan kebiasaan yang jauh berbeda dari biasanya. Jika di Indonesia setiap sore hari orang beramai-ramai pergi ngabuburit ataupun ketika hendak sahur dan akan berbuka orang beramai-ramai menabuh bedug, di Negeri Gajah Putih ini tidak ada hal-hal seperti itu.
Ada perasaan terpukul yang membekas diingatan, semua yang biasa dilakukan dan di dapatkan dengan mudah di Indonesia, disini tidak. Sekedar buka puasa bersama di mesjid pun tidak ada. Sedangkan di Indonesia, nyaris di setiap mesjid pasti ramai dengan orang-orang yang berbuka puasa bersama. Terkadang diri ini sering hanya melewatkannya begitu saja. Betapa terlambat menyadarinya, bahwa setiap momentum itu harus benar-benar di nikmati dan di syukuri. Agar tidak ada perasaan menyesal yang membekas, ketika telah melewatkannya dan ada dalam keadaan yang menginginkan momen yang telah berlalu.

Semua berawal dari tiga pekan lalu, saat aku baru tiba di Negeri Gajah Putih untuk melakukan Study. Kedatangan pada saat momen yang memberi kesan tersendiri bagiku, saat harus menemui ramadhan di Negeri Gajah Putih. Tepatnya ramadhan pertamaku di Negeri Gajah Putih. Berada dibawah langit yang sama, tapi berpijak di tempat yang berbeda. Makanan di Negeri Gajah Putih ini di dominasi oleh seafood dan daging, sedangkan harga sayur sangat tinggi. Sekali lagi, mau tidak mau harus bisa menerima dengan kenyataan.

Perbedaan waktu dan cuaca memberikan perasaan cemburu. Waktu yang sama dengan Indonesia, tapi jadwal shalat dan berbuka lebih lama. Jika di Indonesia pukul 17.44 sudah magrib dan berbuka, di Negeri Gajah Putih ini pada pukul 18.30 pun langit masih terang benderang. Waktu siang disini lebih lama daripada di Indonesia, sehingga magrib jatuh pada pukul 18.45. perasaan cemburu semakin merangsek, ketika banyak message dan status di media sosial yang mengucapkan “Selamat Berbuka Puasa” sedangkan di Negeri Gajah Putih masih menunggu waktu untuk berbuka.

Kesan dan beberapa kejadian tersebut memberikan sentuhan pesan halus, mengingatkan diri ini untuk selalu berlapang dada, bersyukur dan mencintai tanah sendiri. Perkara melewati momentum ramadhan di negeri orang, meninggalkan perasaan yang tak pernah pergi. Mengingatkan akan sejumput gumaman ‘biasanya kalau di Indonesia...’ selalu ada cerita yang hadir yang tak bisa untuk dilupakan.


Annisa Anita Dewi, 23 Juni/Thailand 2015

Tuesday, June 17, 2014

Stay Cool dalam Tombak Kesabaran

‘’Ketahuilah, bahwa sabar jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuhnya akan membusuk. Sama halnya jika kesabaran hilang maka seluruh permasalahan akan rusak’’
-Khalifah Ali bin Abi Thalib-
            Sabar merupakan hal yang sangat akrab didengar dan dijumpai dalam kehidupan. Apakah sebegitu pentingnya sabar itu?
            Jawabannya, kamu pasti tahu. Sabar itu adalah hal yang sangat kecil dan biasa. Bagaimana tidak guys? Ia adalah satu kata yang hanya terdiri dari lima huruf, S-A-B-A-R. Dan yang menjadikannya biasa hampir setiap orang pernah dan sering mengatakan,’’Yang sabar ya!’’.
            Namun, dibalik semua itu ternyata sabar sangat sulit kenyataannya. Sulit untuk diaplikasikan. Saat beribu masalah datang mendera dan menghadang, seringkali kepala berubah memanas dan hati yang terpingkal-pingkal karena harus menahan emosi. Tetapi disaat itu pula ‘sabar’ menjadi penolong dalam menjaga citra, wibawa, dan hati di depan khalayak.
            Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya saat permasalahan datang mendera lalu kita tidak bisa menahan emosi yang tersulut dan terlanjur meledak-ledak, bukan hanya benda-benda disekitar kita saja yang dibanting, harga diri dan citra kita bisa terbanting, guys!
            Jadi, apapun dan bagaimana pun yang terjadi sebisa mungkin kita harus tetap Stay Cool dalam tombak kesabaran. Tanpa kita sadari, dibalik sikap sabar itu kita memperoleh banyak hikmah dan pembelajaran hidup. Disaat orang yang kalap dirundung emosi dalam permasalahan yang dihadapinya, disaat itu pula ia kehilangan ketentraman hati dan ketenangan hidup. Ending-nya reputasi yang menjadi taruhan dan masalah semakin rumit.
            Berbeda halnya dengan orang yang mau menyikapi permasalahannya dengan ‘sabar’. Sebenarnya mereka memiliki banyak masalah, namun karena kesabaran yang mereka miliki, membuat mereka menjadi lebih kuat dan tegar dari sebelumnya. Disaat itu pula, citra, kharisma, wibawa, dan ketenangan berhasil mereka rengkuh dan dapatkan sekaligus.
            Guys! Pesan dari khalifah Ali bin Abi Thalib itu sudah cukup menegaskan bagaimana arti dan pentingnya sabar dalam kehidupan kita untuk menyikapi setiap permasalahan dengan bijaksana tanpa harus kehilangan ilmu dan ketenangan.
            Keren enggak sih??

            ‘’Oke-kan please! Guys,’’

Tuesday, February 11, 2014

AL-KHILM SAMPAI AL-GHOROOM

‘’Cukup! Lupakan semua tentang kita. Tidak ada lagi kenangan antara kau dan aku’’, tukas Amira padaku.
Kalimat itu masih jelas membayang dalam ingatanku dan tak pernah memudar. Januari lalu ia melesatkan kata-kata kejam itu, mengingatnya bathin ini terasa sakit. Air mata pun jatuh tak terelakan. Saat sebelum peristiwa itu terjadi, kita masih beraktivitas, makan, hangout bersama, melakukan ritual persahabatan. Dan pada 11 Januari siang, bumi persahabatan itu runtuh.
Tiga tahun yang susah untukku, menjaga sebuah persahabatan dengan Amira. Pahit, asam, garam kehidupan bersamanya. Saling menguatkan, saling meminjamkan bahu dan dada, menjadi tempat curhat setiap malam yang penuh kegelisahan, menjadikan kami seperti saudara meski tanpa satu darah mengikat. Memamerkan kebersamaan dan kemesraan sahabat kepada dunia, kalau kita adalah dua sahabat yang tak terpisahkan.
Sampai sesuatu pun terjadi. Entah apa yang merasuki pikiran Amira, ia berubah. Sikap acuh di tampakannya. Ia mulai berani membaca buku harianku padahal ia tahu itu privasi, dan setiap orang memerlukan privasi untuk kredibilitas dan kenyamanannya. Jauh dahulu sebelum bumi persahabatan runtuh, kita berjanji satu sama lain untuk saling menguatkan, dan menceritakan tentang masalah dan kegelisahan, tetapi kita tidak boleh membuka apalagi membaca buku harian masing-masing.
Amira selalu menyimpan rapat buku hariannya,untuk menyentuhnya saja ia tunjukan ketidakrelaannya, dan seonggok rasa takut. Tapi kali ini, ia membuka bahkan membaca buku harianku. Saat kalimat demi kalimat yang kutuangkan terbaca, rasanya seperti kehilangan harga diri, seperti di telanjangi, dan semua prasangka, ribuan macam pikiran menggelayut dalam bathinku. Lama aku termenung, tapi aku tak ingin persahabatanku dengan Amira koyak begitu saja. Aku mencoba mempertahankan, mengibarkan kidung kesabaran, memberinya kepercayaan kembali juga kesempatan. Dan berharap ini menjadikannya pelajaran berharga.
Ini bukan yang diinginkan semua orang, bahkan setiap sahabat di belahan bumi ini. Saat persahabatan yang di bangun bertahun-tahun dengan susah payah-kebersamaan dan kasih sayang, mengukir kenangan di setiap jalannya, tercerai berai begitu saja meninggalkan luka, sesal, dan tangis. Amira mengkhianatinya, bahkan dalam setiap hal ia tak pernah ingin kalah dan selalu menganggap sebuah persaingan.
‘’Lepaskan tanganku, Zaira! Aku bukan lagi sahabatmu! Sampai disini saja persahabatan kita’’, ucap Amira dengan nada tinggi dan emosi membara.
‘’Kamu benci sama aku? Fine! Apa alasannya kau mengkhianati dan menghancurkan persahabatan kita? Kasih tahu aku! Tapi kamu harus tahu, kamu boleh membenciku tapi aku tidak akan pernah membencimu dan akan selalu memberikan yang terbaik dan cinta untukmu sahabatku. Pintu hatiku selalu terbuka jika kamu ingin kembali’’, balasku sambil melepaskan tangan Amira.
Sepenggal percakapan pada 11 Januari lalu yang sempat ku tuliskan dalam harianku. Hingga saat ini, bulir air mata selalu luruh dengan sendirinya saat mengingat memori kenangan yang pernah terukir bersama Amira dalam labirin waktu. Jika memang harus ada yang membenci dan terluka, itu adalah aku. Tapi aku tak menghiraukan lukaku untuk mencerai berai persahabatan antara aku dengannya.
Seandainya kau katakan:’’Injakkanlah kakimu ke bara api’’
atau ‘’Jangan berhubungan lagi denganku’’
sedang kutahu bahwa itu keinginanmu
tentulah aku lebih memilih menginjakan kaki ke bara api
untuk memuaskanmu atau memang kamu sedang keblinger
Jika aku menderita,
Karena mendapat perlakuan yang buruk darimu,
Maka sebaliknya aku merasa senang, karena mendapat perhatian darimu
 Sepenggal syair karya Abdullah bin Ad-Daminah yang menggambarkan setitik embun perasaanku. Dan seperti dalam syair itu, aku akan melakukannya untuk mempertahankan persahabatanku dengan Amira. Namun entah bagaimana ia sekarang, aku tak bisa mendapatinya. Namanya, jiwanya, dan keberadaannya seperti tenggelam tertelan bumi.
‘’Duhai Tuhanku yang Esa, aku merindukannya. Berikanlah jalan yang terbaik. Dan bila memang ia adalah sahabat yang baik untukku, maka kembalikanlah, satukanlah kami dalam ukhuwahMu’’, #MyPray.  
Dan ku labuhkan kerinduan, doa, dan cintaku untuk sahabatku dalam dermaga sepertiga malam dimana aku memuji Tuhanku. Januari menjadi kenangan terakhir antara aku dengannya. My besties, sampai jumpa di gerbang kesuksesan meski jalan yang kita pilih berbeda.




Tasikmalaya, Serambi Hijau
Januari  2014
2:42
Annisa Anita Dewi

sumber Foto: http://ida-diah-c.blog.ugm.ac.id/category/just-words/

Wednesday, February 05, 2014

SERAMBI HIJAU

Menjadi saksi bisu dalam diam
Ia tak hidup, tapi keindahannya membuatku hidup
Menjadi saksi lahirnya selaksa karya
Ia bisikkan senandung perjuangan

Ia adalah Serambi Hijau,
Yang membisikkan semangat dalam dada
Mengubah putihnya secarik kertas
Menjadi karya bertabur makna biaskan keindahan

Ia lemparkan indah memesona
Merengkuhku dalam labirin waktu

Dan ia bisikkan, ayat-ayat kehidupan..


Tasikmalaya, 29 November 2013
17:25
Annisa Anita D

Ordinary

7 Cara untuk Ibu Hindari Stunting: Penderita Stunting Indonesia 35,6% Melebihi Batas Maksimal

Hati-hati pada stunting terutama pasangan muda! Beberapa hal yang sederhana namun sangat penting dan berpengaruh acapkali diabaik...