Tuesday, May 30, 2017

"Anda Gagal" Menjadi Mahasiswa

ANDA GAGAL MENJADI MAHASISWA!

Menjadi mahasiswa bagi sebagian orang mungkin itu adalah salah satu dari rentetan mimpi-mimpi besar yang dituliskan dan siap untuk diceklis, seharusnya demikian. Tidak sedikit yang bilang bahwa faktor keberuntungan mendominasi. Jika demikian, apakah mereka yang tidak kuliah dan bukan mahasiswa, tidak beruntung?
foto : ilustrasi suttershock/http://news.okezone.com/


Sebagai mahasiswa tidak hanya sekedar mengikuti perkuliahan menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai akademisi, tetapi juga aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan yaitu sebagai organisatoris. Sebagai akademisi sekaligus organisatoris dan keduanya berjalan dengan beriringan, itu luar biasa!

Tapi sayangnya tidak banyak mahasiswa yang dapat balance antara tugas akademik dan organisatoris. Ada mahasiswa yang fokus mengejar prestasi akademik. Ada mahasiswa yang juga terus berkiprah di organisasi.

Faktanya, tidak selalu mahasiswa/ akademisi yang berjuang mati-matian demi IPK tinggi dan memperoleh IPK tinggi tanpa berorganisasi itu ‘baik’, pun tidak selalu mahasiswa/ organisatoris yang aktif berorganisasi dan berkarya tanpa menjaga prestasi di bidang akademik itu ‘baik’. Benang merah yang dapat kita tarik adalah bahwa sebuah keniscayaan antara akademik dan organisasi berjalan lurus. Karena akademik itu penting untuk menjadi modal dan background di level selanjutnya, tak kalah penting organisasi menjadi investasi dalam pembentukan skill, kematangan sosial, dan survive dalam hidup bermasyarakat.

Mereka yang tidak kuliah dan bukan mahasiswa, tentu saja tidak sepenuhnya demikian itu adalah ketidak beruntungan. Bukan menyoal keberuntungan tapi kerja keras, tekad yang besar, dan doa menjadi kunci utama. Menurut data Kemdikbud tahun 2015/2016 jumlah siswa yang putus sekolah taraf SMA di Indonesia sebanyak 40.454 siswa. Angka yang sangat fantastis dan jumlah yang tidak sedikit!

Sebanyak 1.423.607 siswa yang lulus menengah atas (Kemdikbud, 2015/2016) realitanya tidak sampai 85% siswa berkesempatan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, artinya dari angka 1.423.607 ditambah angka putus sekolah sama dengan? Ya, dalam jumlah yang tidak sedikit mereka tidak seberuntung anda yang menyandang status “Mahasiswa”.

Anda mahasiswa? Tidak sedikit dana yang dikucurkan agar anda dapat duduk di singgasana mahasiswa, dan orang tua yang membiayai anda, atau bagi awardee beasiswa pemerintah yang membiayai anda. Artinya, anda memiliki tanggungjawab yang harus diselesaikan. Membuat bangga, itu sudah pasti. Berprestasi? Harus! Lebih dari itu sebagai social control, agent of change apalagi bagi awardee beasiswa, sebuah pertanyaan sedehana; apa yang bisa anda berikan untuk negeri ini? Setidaknya apa yang telah anda lakukan untuk diri anda selama menjadi mahasiswa?

Bagi sebagian besar, “mahal” untuk bisa duduk di kelas dan terlibat organisasi seperti anda saat ini yang akhirnya berakhir menjadi mimpi. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, faktor ekonomi, faktor dukungan/ motivasi, dan “kesempatan”. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang anda miliki. Sebaiknya hindari hal-hal ini:
1.      Mahasiswa Kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang);
2.      Mahasiswa Kura-kura (Kuliah rapat-kuliah rapat);
3.      Mahasiswa abal-abal (ngampus, duduk, pulang; belajar engga, ngobrol iya);

Proses yang Mahal
Sebagai mahasiswa apalagi yang notabenenya seorang organisatoris, selayaknya lebih mampu untuk memposisikan dirinya baik itu ketika di dalam kelas bersama dosen maupun diluar kelas. Memposisikan diri seperti apa? Ya, sebagai mahasiswa lebih tertib, memegang teguh prinsip dan falsafah kehidupan, bersikap santun, berpikir kritis tapi cerdas.

Bagaimana orang lain akan menghormati dan menghargai, jika anda saja tidak menghargai diri sendiri? Menghargai diri sendiri dapat dilakukan dimulai dengan menjaga sikap dan tutur kata.

Misalnya, Edward adalah mahasiswa yang aktif berorganisasi dan hampir semua orang tahu bahwa Edward sangat berkompeten dalam berorganisasi. Ketika di kelas Edward berceloteh atau bersikap konyol. Ketika Edward bersikap konyol maka orang lain pun enggan menanggapinya, jika ada yang menanggapi maka sama konyolnya.

Dapat kita simpulkan, bahwa sikap anda akan mencerminkan bagaimana orang lain akan memperlakukan anda. Dari cerita tersebut muncul lah pertanyaan “lalu apa saja yang anda lakukan selama berorganisasi?” apakah pengaruhnya hanya sesaat atau pada waktu tertentu saja? Tentu saja organisasi merupakan wadah untuk proses mendewasakan diri dan meng-upgrade skill sehingga anda dibentuk dan apa yang telah diperoleh melekat di dalam jiwa. Dan itu proses mahal! Jika saja anda menyadarinya. Seharusnya hal itu berlaku dimana pun anda berada, tidak hanya ketika di dalam organisasi saja (everywhere, everywhen, anytime).

Berproseslah dengan baik dan menjadi bagian terhebat pada setiap kesempatan yang datang kepada anda. Anda gagal menjadi mahasiswa jika ada yang terabaikan antara akademik dan organisasi. Keduanya sama-sama prioritas tidak dapat terpisahkan untuk mengaktualisasikan diri anda. Dan anda gagal menjadi mahasiswa artinya anda berhasil, ketika mampu mengukir prestasi yang seimbang di akademik maupun organisasi.

Jadi, untuk anda yang menyandang mahasiswa belum cukupkan untuk bersyukur? Belum cukupkah untuk mulai belajar lebih serius memanfaatkan dan mengaktualisasikan diri di perguruan tinggi? Alasan apalagi, orang lain yang ingin kuliah tapi tak seberuntung anda loh? Loh ko anda datar-datar saja, jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan!

(AD)




No comments:

Post a Comment

Ordinary

7 Cara untuk Ibu Hindari Stunting: Penderita Stunting Indonesia 35,6% Melebihi Batas Maksimal

Hati-hati pada stunting terutama pasangan muda! Beberapa hal yang sederhana namun sangat penting dan berpengaruh acapkali diabaik...